December 23, 2016

Sepucuk Surat dari Australia

AKU hanya diam dalam sebuah ruangan persegi yang telah lima tahun ini kutinggali. Hawa kota Makassar begitu padat dengan terik dan asap knalpot kendaraan, tidak ramah bagiku yang kemana-mana hanya berjalan kaki atau – jika beruntung setelah menabung berbulan-bulan – sepeda yang bisa memendekkan waktu tempuh menuju tempat tujuan. Kuingat-ingat lagi mengapa aku bisa sampai di kota ini, hanya getir dan gemetar yang rambat ditubuhku. Terlalu sakit bahkan untuk ingatan sekali pun. Hanya peluru dan bom asap. Saat hendak pulas, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, lemah namun pasti. “Oraz mo nekmrgha(1), Farhad. Saya bisa masuk? Di luar terlalu panas.” Rupanya pak tua Mehmed sedang membutuhkan tempat teduh. “Masuk saja, aba. Tidak dikunci.”

Masuklah Pak tua Mehmed – itu julukannya. 60 tahun, namun jalannya masih tegap dan tidak menunjukkan tanda-tanda dia telah menua. “Seperti biasa, Makassar selalu panas. Bahkan penduduk aslinya pun sering mengeluh karena cuaca.” Pak tua Mehmed tidak langsung duduk di kursi namun memilih memandangi jendela, memandangi kota yang telah bertahun-tahun dia tinggali. Beda dengan kota asalku yang hancur oleh perang.

“Silakan duduk, aba Mehmed. Bachena ghwarom(2), kamar ini belum kubersihkan.” Kedatangan seorang sepuh tempat penampungan pencari suaka di kamar mengharuskan kamar harus rapi, selain petugas imigrasi Indonesia tentu saja.

“Tidak apa-apa, nak. Hanya sejuk yang kuinginkan, tidak lebih.” Pak tua Mehmed, tetap sederhana dan sabar walaupun telah meninggalkan Afghanistan sejak 1985, saat pemerintahan komunis Babrak Karmal dan pasukan Uni Soviet memporak-porandakan negeri yang indah itu. “Nak Farhad, dengar-dengar permintaanmu untuk masuk ke Australia ditolak, ya?”. Rambut pendeknya yang memutih beterbangan diterpa angin dari jendela.

Bisa dimaklumi, di rumah detensi kecil ini, kabar itu bisa menyebar begitu cepat tanpa membutuhkan waktu jeda. “Iya, aba. Alasannya seperti biasa, mereka bilang aku belum memiliki keahlian khusus yang mereka inginkan.” Kadang jawaban yang datang melalui selembar surat itu begitu menggelikan. Isinya yang sopan bahkan bisa kumengerti untuk bahasa Inggris-ku yang terhitung pas-pasan. Terutama di bagian penolakan. Sekolah hingga tamat di institut teknik mesin tidak menjamin aku bisa masuk Australia dengan mudah.

Aku termasuk beruntung, hanya membutuhkan tiga tahun untuk mendapatkan surat balasan. Penghuni rumah detensi ini banyak yang telah menunggu antara tujuh hingga sepuluh tahun. Setidaknya mereka masih punya harapan untuk diterima, beda denganku.

“Sudah, nak Farhad. Tidak usah sedih begitu. Gunakanlah waktumu untuk kembali melengkapi berkas, atau malah kembali ke Afghanistan jika masih punya paspor.” Paspor, sebuah buku kecil yang justru begitu penting untuk kami, para pencari suaka. Tetap kusimpan buku sasaran cap imigrasi tersebut di sela tumpukan baju dalam lemari.

Manana, aba Mehmed(3).” Pak Mehmed, orang tua dengan tutur kata dan perangai yang halus, itu dampak dari pendidikan kedokteran Universitas Kabul yang sempat dia terima hingga lulus sebelum terlunta-lunta di Asia Tenggara. Beliau sendiri ditahan tujuh tahun lalu oleh pihak imigrasi saat hendak memasuki Indonesia melalui Batam seorang diri, hanya ditemani sepeda. Sinar matanya jelas memancarkan aura kecerdasan, teduh dan tenang. Pak Mehmed pula yang kami percayakan sebagai penghubung kami dengan orang-orang imigrasi. Keluhan dan permintaan, pak Mehmed akan siap menyampaikannya dalam bahasa Indonesia yang fasih, hasil bertahun-tahun berbaur dengan masyarakat lokal.

“Aba Mehmed sendiri bagaimana? Sudah ada jawaban dari pihak imigrasi Australia?” tanyaku mencoba membangun percakapan.

“Sama sekali belum ada. Sudah 15 tahun, sejak masih di Malaysia, dan bahkan belum ada kabar. Lelah rasanya menanyakan hal sama kepada pihak imigrasi.”

“Kenapa tidak kembali ke Afghanistan saja?”. Mendadak suasana beku, walaupun terik begitu menyengat. Peluh membasahi wajah keriput aba Mehmed hingga kerah kausnya.

“Aku tidak mungkin kembali ke sana. Sudah begitu lama aku berkelana. Aku merasakan kebebasan yang telah lama kucari, tanpa terikat yurisdiksi dan portofolio lainnya. Telah kuizinkan kebebasan mengaliri darah dan nadiku.” Jelas pak tua Mehmed sembari menahan cekat di tenggorokan. Pertanda dia tengah menggali berkas ingatannya.

“Apa aba tidak rindu keluarga?” Aku bertanya sembari penasaran. Pak Mehmed tersenyum.

“Keluarga adalah tempat kita berasal, tempat di mana kita merangkai pijak demi pijak langkah kita di bumi. Tentu saja sulit untuk tidak mengingat mereka.” Mendengar itu aku pun ingat pada keluargaku di desa. Apa mereka masih hidup? Apa mereka baik-baik saja? Apa Taliban(4) masih datang ke rumahku dan meminta upeti perlindungan? Ya Tuhan, lindungilah mereka…

“Apa aba sudah terlalu nyaman dengan tempat ini?”. Mehmed kemudian menyalakan rokok kretek lokal favoritnya kemudian lanjut bercerita.

“Sama seperti dirimu, nak Farhad. Aku juga masih memikirkan kampung halamanku. Memikirkan ayahku, ibuku, kakak laki-laki, dan adik perempuanku. Gurauan mereka saat makan malam selalu datang di mimpiku.”

Bisa kurasakan kerinduan aba Mehmed. Aku sendiri juga rindu keluarga. Tapi kehadiran Taliban di desaku membuat hidup kami tidak aman lagi. Bengkel tempatku bekerja begitu lulus dibakar oleh mereka hanya lantaran bos-ku menolak memperbaiki pelontar granat mereka. Mereka juga memaksa penduduk untuk membayar upeti ke mereka dengan alasan sebagai perlindungan dari serangan marinir Amerika Serikat. Tapi, kami tidak merasa aman sama sekali. Teror yang mereka lakukan sudah terlalu jauh.

Akhirnya ayah dan ibu sepakat untuk mengirimku keluar dari Afghanistan dengan harapan agar hidupku bisa lebih baik. Awalnya pilihan antara Pakistan dan salah satu negara di Eropa. Namun tidak ada pilihan yang baik. Pakistan memperlakukan pencari suaka asal Afghanistan seperti warga kelas tiga. Sementara negara-negara Eropa sudah tidak terlalu ramah kepada Muslim. Maka dipilihlah Australia, negara yang dibangun dari kerja keras para pendatang. Ayah dan ibu juga sering mendengar cerita dari sanak saudara dan tetangga yang menemui harapan hidup baru di Australia. Namun uang tabungan yang kami miliki tidak cukup untuk biaya perjalanan semuanya. Maka aku harus rela berangkat sendirian dengan harapan bisa masuk Australia lebih dulu, kemudian mencarikan ayah dan ibuku uang untuk menyusulku. Namun, tidak sesuai rencana. Di sini aku, tidak pasti dan terkatung-katung. Rindu rumah dan tidak bisa mengirim surat karena Taliban telah membakar kantor pos.

“Apa tidak ada cara lain agar aba bisa kembali ke Afghanistan?”

“Aku selalu memikirkan caranya. Bersepeda lagi tentu saja gila mengingat aku sudah tua dan renta. Tidak bertenaga dan terlalu letih. Sudah tua dan renta. Boleh jadi aku selalu memikirkan kampung halamanku, tapi aku sudah menganggap rumah detensi ini sebagai rumah sendiri. Para penghuninya juga telah kuanggap sanak saudaraku sendiri…” Kulihat mata aba Mehmed mulai berkaca-kaca.

“Inilah yang selalu kukhawatirkan. Terlalu lama hidup dalam pelarian justru membuatmu nyaman dengan kondisi seperti itu. Padahal manusia harusnya menetap, tinggal dalam damai. Memang butuh lama untuk betah, tapi sekali betah, kita tak pernah berpikir apakah negara tujuan kita masih memeriksa berkas kita atau tidak…”

Sama seperti aba Mehmed, banyak penghuni rumah detensi yang telanjur nyaman dengan kota ini. Kami jelas tidak mungkin menyalahkan pihak Australia yang harus memproses permintaan masuk ribuan pencari suaka. Tapi kami hanya ingin hidup yang lebih baik, jangan apungkan kami dalam ketidakpastian.

Namun ada satu hal yang aku belum tanyakan. “Apa aba punya firasat akan diterima masuk ke Australia?”

“Anakku Farhad, bahkan bermimpi hal itu pun kini aku tidak sanggup…”

****

SONTAK aku bangun dari tidur siang. Percakapan dengan aba Mehmed rupanya mimpi siang bolong. Aba Mehmed baru saja meninggal dua hari yang lalu karena serangan jantung hasil dari kebiasaannya merokok. Beliau meninggal jauh dari keluarga, sebuah hal yang membuatku sedih. Kami para penghuni rumah detensi merasa kehilangan seorang kakek yang begitu halus perangainya. Pendengar keluhan kami penuh sabar lalu menyampaikan ke petugas imigrasi. Sudah sore, kulangkahkan kakiku menuju garasi tempat para penghuni menyimpan sepedanya. Jadwal rutin bersepeda, lari sementara dari sempitnya rumah detensi.

Saat hendak bersepeda, kulihat para penghuni sedang mengelilingi sesuatu di ruang tamu. Jarang-jarang ada kehebohan di tempat ini. Rasa penasaran mendorongku untuk mendekat. Rupanya sebuah surat. Kuraih otomatis surat itu tanpa peduli reaksi yang lain. Kubaca perlahan. Tertulis besar dan tebal di awal surat : “Kepada Mehmed Ghani (60 tahun), kami pihak imigrasi Australia telah mengabulkan permintaan suaka Anda.”

Tangisku pecah, tak bisa dibendung.


- Makassar, 25 November 2016


Keterangan arti bahasa Pashtun dan istilah :

(1) Oraz mo nekmrgha : Selamat siang

(2) Bachena ghwarom : Maaf

(3) Manana, aba Mehmed : Terima kasih, Pak Mehmed

(4) Taliban : Nama pasukan milisi teroris di utara Afghanistan

Karya : Achmad Hidayat Alsair*

Rujukan:
MgP
Cerpen Harian Go Cakrawala
  1. Disalin dari Karya Achmad Hidayat Alsair
  2. Pernah dimuat di rubrik Sastra Harian Go Cakrawala edisi 17 Desember 2016
*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Sedang gemar menulis fiksi dan menghindari topik pembicaraan skripsi. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Pesta Puisi Kopi Dunia 2016 “1550 MDPL”.


December 18, 2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR Edisi 18/12/2016

Rubrik Budaya Harian FAJAR menyiarkan Puisi Syaiful Alim Darwis dengan judul Mengulang Alif yang Sama, Final Countdown dan Sia-sia Belaka. Cerpen Irhyl R Makkatutu berjudul Memeluk Retak. Apresiasi oleh Hasymi Arif dengan judul Belajar dari Chairil Anwar.

M Galang Pratama
Rubrik Budaya Harian Fajar, 18/12/2016



M Galang Pratama
Rubrik Parenting Harian Fajar, 18/12/2016