November 09, 2016

Membaca Budaya Fajar Edisi 7 Agustus 2016

JIKA Anda berada di tulisan ini tanpa terlebih dahulu membaca postingan saya sebelumnya, maka saya sarankan agar Anda kembali ke bawah, dan membaca tulisan saya berjudul "Gerai Koran" (7/8/2016). Tapi jika Anda tidak ingin kembali ke postingan sebelumnya, karena Anda bersikeras tetap berada di tulisan ini, itu juga tak apa apa. Saya tidak pernah kecewa pada Anda.

Tulisan ini berisi akumulasi pikiran saya pribadi tanpa adanya tendensi politik atau berupaya mencari pencitraan dari nama yang saya sebut di dalam status ini. Bukan itu.

Sungguh, meskipun saya sedikit mengenal beberapa nama berikut (saya kenal dari tulisannya di banyak media), saya tak punya kepentingan apa pun untuk mengangkat reputasinya lewat status fesbuk ini.
***
PAGI ini, di sebuah gerai koran yang tidak bernama, terletak di pojok kota kecil bernama Sungguminasa, tepatnya -semoga kau sesekali ke sini- di jalan malino, depan TK Bhayangkari, Aspol Batangkaluku, Gowa, Sulsel.

Saya sedang asyik membaca Harian Fajar, edisi Minggu 7 Agustus 2016. Pada rubrik budaya mata saya berhenti dalam waktu yang lama. Bercengkerama dengan nama penulis melalui kata katanya.


PUISI

Pertama tama saya berkenalan dengan Puisi Hasymi Arif. Tiga buah puisinya berhasil saya lahap; Serumah Semut, Dibalik Jendela dan Di Meja Makan. Mataku berhenti lama di puisi terakhirnya. Di Meja Makan. Entah mengapa saya kembali harus merasakan jatuh cinta. Bukan kepada penulisnya ya, tapi kepada puisinya yang berjudul Di Meja Makan. (Semoga yang di sana tidak cemburu, ya).

Di Meja Makan dalam puisi Hasymi Arif, mengingatkan saya tentang esai yang saya tulis ketika saya masih duduk di bangku SMA, kira kira empat tahun silam. Saya menulis pentingnya meja makan dalam mempertemukan semua anggota keluarga. Dan di tempat itulah suntikan moral dari orangtua bisa masuk ke otak dan hati anak anaknya. Namun sepertinya acara makan bersama di meja makan sudah mulai ditinggalkan banyak keluarga. Bahkan jika pun masih ada, banyak di antara mereka dari anggota keluarga itu yang makan sedang di tangannya tak terlepas smartphone kerennya.

Saya mengapresiasi ide dari penulis puisi kali ini. Dalam puisinya yang berjudul di meja makan itu, ia berhasil mengaitkan dengan banyak hal, seperti 'taman', 'pertunjukan', 'hiburan', 'perbelanjaan', 'percintaan', dan 'kenangan'. Tentunya kaitan yang paling saya suka berada di penghujung kalimat dalam puisinya. Hasymi menulis: "tempat terbaik me

Gerai Koran

Saya yakin jarang sekali anak muda mau bangun pagi pagi lalu datang ke gerai koran dan tinggal di situ selama berjam jam.

SAYA datang ke tempat ini hampir setiap Minggu pagi. Dalam sebulan ada empat minggu. Kadang saya absen satu kali. Tapi tak pernah absen membaca/membeli koran Minggu, kecuali saat saya berada di luar kota ini. Yang mana di tempat itu saya tak mendapati tempat membaca sebaik tempat di sini. Memang sederhana dan kecil gerai ini, tapi dari sinilah inspirasi menulis saya mencuat. Setidaknya saya tidak hanya membaca status di media sosial yang ribut ini tapi juga bisa membaca fakta di luar dunia maya, membaca kabar yang sudah tentu tak semua mampu dijangkau jika saya hanya bergelut dengan media maya saja.

Pagi ini saya mulai membaca Koran Tribun Timur Makassar, di situ ada banyak berita anak, berita iklan dan lowongan kerja. Ada berita PSM Makassar yang sempat kalah dan sebentar kembali bertarung. Ada juga berita olimpiade yang menjadi headline-nya. Serta ada berita teroris dan kasus-kasus yang lain. 

Saya melangkah ke Koran Fajar Makassar. Headline-nya ada berita tentang cemilan yang unik. Namanya snack bikini, ada kata "remas aku" dan label halal yang diragukan kebenarannya. 

Selain itu ada makanan lain yang kontroversial seperti kafe jamban, wadah makanannya berbentuk kloset jongkok. Serta ada snack yang di dalamnya ada bungkusan mirip kondom yang diisi makanan. Dan ya sudah tentu anak anak sekarang diajari untuk mengetahui sekaligus mencicipi makanan ini. 

Saya membalik halaman selanjutnya, ada berita perkelahian anggota polisi dan satpol PP. Ini gegara acara nikah massal yang diselenggarakan Pemkot Makassar di anjungan pantai losari, (6/8/2016 lalu). 

Memang, saya melihat, di anjungan sana, yang menjadi penjaga parkir (selain oknum tukang parkir) adalah para satpol PP. Tapi kan kemarin ada acara besar, jadi turutah polisi dari Sat Bhayangkara mengamankan pernikahan 500 pasangan yang sudah tua tua itu di pantai losari yang ber tujuan demi mandapatkan buku nikah langsung dari kementerian agama prov sulsel dan setelah itu dicatatlah nama pasangan itu di dinas catatan sipil kota Makassar. Sehingga resmilah semua.

Saya tak lama di pembahasan itu. Sebenarnya saya lebih penasaran dengan tulisan sastra di setiap koran Minggu. Saya beralih ke rubrik budaya. Selain mendalami tafsir kelong, saya melihat sekaligus membaca dan meresapi tulisan sastra lainnya seperti Puisi puisi Hasymi Arif, Cerpen Irhyil R Makkatutu dan Apresiasi dari Wahyu Gandi G. Saya merasakan ada jiwa penulis di atas pada setiap karyanya. (Di postingan selanjutnya saya akan membeberkan isi ketiga tulisan tersebut).

Saya kemudian mengambil Koran Kompas dan koran ini yang kemudian saya bawa pulang ke Rakit, meski saya harus merogoh kocek tujuh ribu rupiah. Itu pun uang yang kupakai adalah uang pinjaman. Hh. Lima ribu harga korannya, dua ribu biaya membacanya. Jika hanya membaca seluruh koran di gerai ini (tanpa membawa pulang korannya) biasanya saya cukup membayar dua ribu perak. Wah murah kan? Padahal saya duduk di sini dari pukul 7 lewat sampai pukul 10 lewat. Hmm. Tapi setidaknya saya senang.

Di koran Kompas,

November 06, 2016

Cinta dan Pendidikan



"Tidak ada orang yang tidak senang, ketika cinta disebutkan."

DEMIKIAN kata Sattu Alang, guru besar UIN Makassar berjuta pengalaman, dalam sebuah diskusi, pada Juni 2015 silam. Saya masih merekam kata-katanya lewat tulisan. Ya, begitulah barangkali kekuatan tulisan. Mampu merekam kejadian-kejadian penting seberapa lama pun kejadian itu pernah hadir memberikan ceritanya. Sattu Alang juga bilang, "Cinta adalah salah satu masalah dalam menempuh pendidikan."

Inilah bukti bahwa sebagai pejuang bangsa di bidang intelektual dari dahulu hingga detik ini, mereka-mereka yang sedang mengejar ilmu, yang menempuh tingkat pendidikan tinggi, pernah mengalami stagnasi pemikiran walau hanya dalam waktu sekejap saja. Namun, wabah ini juga turut melingkupi beberapa kaum muda pengejar cita-cita untuk masuk ke dalam lingkaran "korban pendidikan."

Pertanyaan yang kemudian timbul ialah mengapa cinta dapat memberikan derita bagi para pencari ilmu? Apakah ada solusi agar para pencari ilmu ini mampu berjalan di rute ilmu pengetahuan dengan selamat?

Dalam realita yang terjadi di lingkungan akademis, masalah cinta masih dipandang sebagai hal yang abstraktif. Senantiasa dialihkan, disembunyikan bahkan kadangkala masalah ini sengaja untuk diasingkan dari kehidupan sehari-hari. Nistain Odop dalam bukunya berjudul 55 Wasiat Cinta dan Kehidupan (2009: 248) mengatakan, mustahil manusia hidup tanpa cinta kasih.

Cinta dalam pendidikan masih menjadi hal yang tabu untuk ditanggapi oleh sebagian orang. Utamanya bagi mereka yang sedang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Padahal cinta dalam pendidikan juga sangat diperlukan, bagaikan suatu kebutuhan yang mesti dipenuhi. 

Menelisik satu teori dari pakar psikologi berbangsa Amerika, Abraham C. Maslow, dalam pandangannya, ia melahirkan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Ia menyatakan bahwa cinta menyangkut suatu hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. 

Maslow juga mengatakan bahwa kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima. Kita harus memahami cinta, harus mampu mengajarkannya, menciptakannya dan meramalkannya. Jika tidak, dunia akan hanyut ke dalam gelombang permusuhan dan kebencian (Goble, 1987: 71)

Rubrik Budaya Harian Fajar Edisi 6/11/2016

RUBRIK Budaya Harian Fajar Makassar edisi 6 November 2016 menyiarkan Puisi Andi Batara Al-Isra berjudul Aku Menemuimu Demi Sebuah Sajak; Yang Diajarkan Tualang Kepadaku; dan November. Cerpen Dhito Nur Ahmad dengan judul Tidak Mudah Menjadi Guru serta Apresiasi M Galang Pratama berjudul Cinta dan Pendidikan. Selamat! (*MgP)

Apresiasi M Galang Pratama
Harian Fajar, 6 November 2016