September 30, 2016

Putri Karaeng




Karya Muh. Galang Pratama
Harian Fajar, 25/9/2016


P
ernikahan Batal karena Uang Panai
. Judul tulisan itu tertulis jelas di sebuah surat kabar di kota ini. 

***


GELISAH. Itulah yang dirasakan seorang pemuda dua puluh tahun. Pikirannya melayang menyusuri bayang yang tak pernah jelas arahnya. Sejak pertengahan tahun ini, ketika seorang perempuan datang berkenalan dengannya, seakan ada sebuah paku tertancap di bilik bambu. Paku itu diandaikan sebagai kegelisahan dan bambu itu adalah hatinya. Perlahan namun pasti, sesuatu yang menusuk itu menancapkan ujungnya tepat di permukaan yang mudah remuk. 


***

Telepon genggam Armin berdering. Sebuah panggilan masuk. Nama kontaknya terlihat jelas: Ammak. 


“Ammoterekki.”


“Teaki rong, Ammak. Niak inji erok kujama anrinni.” 

“Ammoterek miki rong, Nak. Niak erok napawwangngangki, Bapaknu.” 


Panggilan dimatikan.

Sebenarnya seruan untuk pulang itu adalah perkara penting. Selama dua tahun Armin tak pernah pulang untuk sekadar menjenguk orangtuanya. Ia lebih memilih menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi negeri di kota ini. 

Ada hal lain yang membuat Armin tidak bisa pulang. Ainun, perempuan itu juga sedang menyelesaikan kuliahnya hingga beberapa bulan mendatang.

***

Hati Armin mulai dikejar tanda tanya. Perasaan bimbang itu menyusuri setiap sel di dalam tubuhnya. Saat pernyataan yang disampaikan kepada kedua orangtuanya di awal tahun silam yang tak disetujui membuatnya hingga kini diganjar kegelisahan yang tak berkesudahan. 



Mengapa orangtuaku belum mengijinkan? Atau mungkin saya belum pantas? Pertanyaan terus menghantuinya.

Orangtua Armin menyarankan agar ia terlebih fokus pada studi. Menyelesaikan kuliah yang sedang dihadapinya. Sekarang ia sudah berada di penghujung studi strata satunya. 


Tenang dulu, Nak. Ingat kau itu belum kerja, kuliahmu juga belum selesai. Nanti kalau sudah lulus, baru diusahakan. Jawaban orangtuanya terus terbang di pikirannya.


Apa boleh buat, Armin di tengah kesendiriannya terus memikirkan hal itu. Untungnya, ia tak pernah lupa ajaran guru madrasahnya dulu. “Ingat Armin, rida Allah ada pada rida orangtua.” 

Armin sempat berpikir, jika hal itu dilangsungkan pada kondisi seperti ini, maka semuanya akan berantakan. Tidak mungkin Armin memilih jalan yang dilarang di adatnya. Silariang! Armin merasa pusing. Ia tak tahu harus berbuat apa selama menunggu waktu itu datang. Ya, mungkin ia bisa memanfaatkan keahliannya. Menulis. Begitu pikirnya. 


Tapi apakah menulis dapat menghidupiku? Lagi-lagi tanda tanya muncul di benaknya. Satu tanda tanya seringkali memunculkan tanda tanya baru. Dan tanda tanya yang banyak seringkali tak pernah bertemu dengan jawaban yang diinginkan oleh jiwa-jiwa yang dihantui kegelisahan.


***

Apakah dalam masa penantian ini, saya akan aman? Bagaimana jika terjadi sesuatu di luar yang direncanakan? Jika memang membaca hal-aman-hal-aman buku yang kini berada di sampingku mampu meredam kebutuhan biologis ini, maka tentu itu adalah hal baik. Namun bagaimana jika sekiranya buku buku itu tak lagi mau memberikan hal-aman-hal-aman-nya untuk dibaca dengan aman? Mungkin saya akan gila. Dan ujung ujungnya, orangtuaku sendiri yang akan datang dengan penuh penyesalan. Itu pasti. 

***

Pertanyaan memang tak pernah berhenti mengejar Armin. Di mana pun ia berada, pertanyaan seolah hantu yang kerap kali datang mencegat perasaan takutnya. Tidak. Ia tidak takut ditanya. Tetapi, jika tanda tanya itu bertemu dirinya, seolah tanda tanya itu hanya akan menemui rasa penyesalan. Sebab tanda tanya itu tak pernah bertemu dengan jawaban yang diinginkannya.

Armin menjalin hubungan dengan Ainun sudah hampir setahun. Kini mereka berdua telah menyatukan persepsi untuk saling mempertemukan keluarganya. 

Keluarga Armin tinggal di pelosok desa. Ammaknya hanya seorang ibu rumah tangga. Sedang bapaknya seorang guru berstatus aparatur sipil negara dengan pangkat paling rendah. Sang bapak hobi meminjam di bank. Kalimat yang terakhir itu sungguh bukanlah sebuah ironi. 

Saat ini orangtua Armin harus rela meminjam uang di bank untuk berbagai kebutuhan mendesak. Termasuk untuk biaya sekolah Armin dan enam adiknya. Gajinya dalam sebulan harus dipotong oleh bank sebagai bayaran utangnya. Keluarga Armin boleh dibilang sangat terpuruk dalam hal ekonomi.

Berbeda dengan kehidupan orangtua Armin. Ibu Ainun bergelar doktor. Ia bekerja sebagai pengawas di lingkungan dinas pendidikan di Jeneponto. Begitu pun Ayahnya. Juga seorang yang terdidik. Namun ia lebih dikenal sebagai tetua Adat daripada seorang guru. Sebab garis keturunan Raja Binamu, teruntut jelas hingga ke dirinya. Ringkasnya, menjadi keluarga terhormat di mata masyarakat. Seorang keluarga bangsawan alias Karaeng. Itulah yang dirasakan Ainun. Dia putri Karaeng.

***

Armin datang menemui Ayahnya. Dalam langkah perjalanannya, air mukanya berubah drastis. Suhu tubuh-nya naik. Emosi dalam jiwanya bergelora. 

“Sebenarnya apa yang salah jika saya melamar Ainun sementara saya masih kuliah, Ayah? Saya kan hanya ingin agar hubungan saya dengan dia dapat terjaga. Apakah agama melarang hal yang semacam itu? Atau memang karena masyarakat belum mampu menerima ketika ada sepasang suami istri menikah, sedang sang suami belum memiliki pekerjaan tetap? Sedangkan, Ayah tahu kan, usia saya sekarang sudah dua puluh tahun? Menurut catatan sipil, itu sudah termasuk usia dewasa.”

“Dia itu putri Karaeng, kan? Kau mau menambah utang orangtuamu,” tegas Ayahnya.

Armin membisu. Seperti bisunya angin yang enggan menjawab harapan seorang pemuda yang membentur pahitnya kenyataan. 

Di tengah kegundahannya, Armin menulis. Ia mengungkapkan isi hatinya dengan sebuah prosa. Tak butuh waktu lama, prosa yang dibuat Armin berada di barisan paling atas dari surat elektronik redaksi surat kabar di kotanya. Jelaslah, ia menulis supaya orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.(*)



Gowa, Maret-September 2016




Catatan:

Ammoterekki : Pulang. 
Teaki rong, Ammak. Niak inji erok kujama anrinni : Jangan dulu, Bu. Masih ada yang ingin kuselesaikan di sini.
Ammoterek miki rong, Nak. Niak erok napawwangngangki, Bapaknu : Pulanglah dulu, Nak. Ada yang ingin diberitahukan Ayahmu.



Rujukan:
  1. Disalin dari Karya Muh. Galang Pratama,
  2. Harian Fajar Makassar, 25/9/2016

September 29, 2016

Manusia, Perihal Cinta dan Adat (Catatan Novel Cinta Anak Karaeng)

Apresiasi Muh. Syakir Fadhli, Harian Fajar 4/9/2016 | Gambar: Ruslan Kibe


Selama masih ada manusia, maka selama itu pula cinta akan dibincangkan.

TAK sedikit suara membenarkan kekata itu. Betul. Sebab cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan sedari lahir. Merasakannya adalah fitrah dan lumrah. Cinta tidak akan pernah luntur untuk dibahas oleh makhluk perasa, bernama manusia. Mengenai kisah pertautan rasa, bila disandingkan dengan adat kebudayaan maka tentu akan memunculkan dimensi baru, dimensi yang dalam banyak kesempatan telah mewarnai kisah hidup manusia. 

Banyak karya yang menyoal tentang cinta dan adat kebudayaan. Semisal perjuangan cinta Zainuddin dan Hayati, dalam film berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film yang di dalamnya melibatkan kultur Sulawesi, Sumatera dan Jawa. Ada pula film berjudul Badik Titipan Ayah, juga membahas tentang kultur. Kebudayaan Siri’ na Pacce di Tanah Panrita Lopi, Bulukumba. 

Dalam dunia kesusastraan, pembahasan serupa disuguhkan oleh Ahmad Sahide kepada pembaca, dalam novelnya yang berjudul Cinta Anak Karaeng. Dalam novel ini ia memceritakan tentang perjuangan cinta, keterikatan adat serta harapan yang senja. Meski menggeramkan, tapi premis-premis dalam novel ini serasa telah membungkam begitu banyak mulut. Sekaligus mewakili banyak mulut yang lain untuk bicara. 

Berlatarkan Desa Kindang, atau Bulukumba secara umum, Ahmad Sahide dengan apik mengisahkan rumitnya hubungan antara dua tokoh yang saling mencintai. Tokoh perempuan yang dikisahkannya adalah anak Karaeng –strata sosial tertinggi dalam masyarakat Makassar. Anak bangsawan yang jatuh cinta kepada Daro – bernama lengkap Darwis - pemuda yang hanya lulus sekolah dasar. 

Sangat jelas digambarkan melalui karakter Karaeng Asri, yang menyesal disertai nada kecewa karena dilahirkannya di tengah keluarga kekaraengan. Ia tak punya kuasa sedikitpun untuk melawan adat. Mau tak mau ia harus berkorbankan perasaan. Mereka harus berpisah sebab keduanya tak kunjung menuai kata setuju dari keluarganya. Dan Daro harus terusir dalam rangkaian peristiwa ini,.

Ia dituding telah mencoreng nama baik keluarga Karaeng -dengan sikapnya yang berani mencintai Karaeng Asri. Sebagai konsekuensi, Daro harus meninggalkan kampung halamannya sendiri, pergi beserta kedua orang tuanya. Meninggalkan Kindang, menjauhi Bulukumba.

Jika ditarik ke dalam realitas kehidupan, hal ini tentu akan sangat membekas, boleh jadi sudah ada yang pernah mengalami. Tak jauh dari persoalan anak dengan orang tuanya; hilangnya kekerabatan serta hubungan kekeluargaan; munculnya tindak kekerasan; hingga pada pilihan untuk mengakhiri hidup dengan cara yang bermacam-macam. Tak jarang, kesemuanya hanya akan menyisa sesal atau sikap saling menyalahkan. 

Dalam era seperti sekarang, kaum muda haruslah cerdas memilah dan memilih, melihat dengan teliti, sebelum menentukan siapa yang kelak akan dipilihnya -sebagai ‘sahabat’ di separuh hidupnya. Di samping sebagai renungan bagi orang tua, yang sejatinya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya tanpa mengorbankan perasaan anak maupun orang tua itu sendiri.

Dalam novel ini Karaeng Bakri jelas sangat kukuh menjaga putrinya. Juga berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang menyadarkan bahwa dalam hidup, kita akan selalu berada dalam aturan. Terikat dengan aturan satu dan aturan yang lainnya. Kita menghadirkannya dengan tujuan agar kehidupan bisa menjadi lebih baik. Adapun kehadiran adat, di tengah masyarakat telah menjadi dimensi tersendiri untuk dilirik dan dipertimbangkan. 

Dalam novel ini saya melihat harapan. Ada harapan yang terselip di antara kejadian dan ucapan tokoh-tokohnya. Ada banyak pesan sosial di dalamnya. Maka dari itu, novel Cinta Anak Karaeng ini layak diapresiasi atas kehadirannya. Ahmad Sahide telah menyajikan dengan begitu indah. Ia telah menghadirkannya dalam bentuk karya fiksi, di tengah-tengah tradisi yang dianggap kaku dan ketakutan banyak orang dengan buku-buku berbau ilmiah. 

Saat saya menyelesaikan membaca novel ini, saya masih diliputi rasa penasaran –dan berharap tak salah paham, Ada kalimat yang merampas perhatian saya. Dari sekian banyak kalimat yang ada, saya sempat tertahan lama ketika membaca keluhan Karaeng Asri. Ada benarnya kalimat kecil itu. kalimat yang ia perdengarkan kepada adiknya bahwa “Cinta suci adalah pemberian Tuhan. Ia seharusnya tidak dinodai oleh kultur ciptaan manusia.” 



Karya: MUH. SYAKIR FADHLI - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

Rujukan:
  1. Disalin dari karya Muh. Syakir Fadhli
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, Edisi 4/9/2016

Songkok Pute


Muh. Galang Pratama
Cerpen Marwah Thalib, Harian Fajar, 4/9/2016

DAENG Rala tampak tampan hari ini. Wajahnya sangat berseri. Pakaiannya juga bersih. Ia tak lagi memakai pakaian lusuh yang seringtiga kali dipakai tanpa dicuci. Rambutnya jangan ditanya, selalubasah karenaair wudhu. Padahal sebelumnya ia tak pernah begitu. Pun bau bajunya semerbak mewangi. Istrinya berlagak seperti orang jatuh cinta melihatnya, setelah nyaris sedikit pun tak ada lagi cinta untuknya. Daeng Rala kembali mengusap rambutnya dengan jemari di depan cermin. Tak lupa ia letakkan songkok pute di atas kepalanya. Pelan-pelan. Sembilan puluh nilai Daeng Rala dari Daeng Minnong, istrinya. Nilai yang nyaris sempurna.

Hari ini ia kembali datang shalat berjamaah ke masjid dengan peci putih. Selepas bulan yang lalu, ia tak pernah melewatkan salat berjamaah di Masjid. Bahkan iapun selalu jadi jamaah pertama yang datang. Dan, tak jarang selalu menjadi muadzin. Ia memang banyak perubahan sejak bulan yang lalu.

Banyak mata yang melihatnya sinis. Bukan karena rajinnya ia ke mesjid atau jadi muadzin. Bukan. Tapi karena peci putih yang ia kenakan. Peci putih yang biasa dikenakan oleh orang yang didepan namanya ada huruf H. Katanya peci itu milik pak haji.Sementara ia hanya baru pulang dari umrah. Bagi warga kampung kami, peci putih belum pantas dipakai oleh orang yang belum pernah naik haji. Termasuk Daeng Rala. Namun Daeng Rala tak peduli. Ia terus saja memakai songkok ‘haji’ tiap harinya.

Waktu salat ashar sebentar lagi tiba. Daeng Rala kembali memakai songkok putih ke masjid. “Pa, tidak kita liatki itu orang-orang, selaluta naliat-liatki. Kayaknya tidak nasukai kalau pakaiki songkok pute,” komentar Daeng Minnong.

“Masa, perasaanta' ji kapang. Siapa tau justru nasukai naliat,” ucap Daeng Rala pura-pura tidak tahu. Padahal sebenarnya dia pun merasakan arti dari pandangan warga padanya. Ia berusaha tidak mempedulikan. Semakin lama,‘songkok haji’ jadi temannya ke mana-mana. Tidak pernah sekali pun ia berada diluar rumah tanpa songkok itu.

Warga kampung kami semakin hari, semakin risih dengan ulah Daeng Rala. Hampir tidak pernah mulut mereka sepi dengan komentar terhadap Daeng Rala setiap melihatnya”

“Darimaki naik haji, Daeng?” tanya Daeng Kulle memastikan.

“Belum, Daeng. Doakan mudah-mudahan tidak lama bisama juga naik haji,” jawab Daeng Rala santai.

“Kukira darimaki karena pakai songkok puteki'. Berdosaki bede pakai songkok haji kalau belum pernah naik haji. Begitu juga kalau tidak pakai songkok haji nah haji maki,” jelas Daeng Kulle.

Daeng Rala menyeringai. Mengehela napas.

***

Tamu tak berhenti berdatangan. Sudah jadi kebiasaan di tanah Bugis-Makassar jika menggelar hajatan sebelum menunaikan haji, tamu selalu ramai meski pun tidak ada undangan secara tertulis yang disebar. Biasanya hanya kaluarga dekat yang mendapat undangan lisan langsung dari mulut si pemilik hajatan. Selebihnya, informasi tersebut tersebar dari mulut ke mulut. Tentu saja warga antusias menghadiri hajatan berbau Haji. Biar tertular rezeki naik haji katanya.

Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja hingga anak-anak sudah duduk rapi mengambil tempat. Ada yang memilih posisi paling dekat dengan Pak Ustad. Ada pula yang lebih memilih posisi paling belakang. Daeng Minnong dan Daeng Rala seakan tak habis tenaga menyapa setiap tamu yang datang. Senyumnya terus tersungging, sangat ramah. Tamu di persilakan duduk menikmati teh hangat dan kue tradisional khas kota Daeng yang sudah disiapkan.

Daeng Rala terlihat rapi dengan piama putihnya. Sarung putih bercorak garis–garis membuatnya tampak semakin bersih. Tidak terlewatkan ia padukan dengan songkok putihnya. Daeng Minnong juga terlihat rapi dengan busana muslimah yang tidak terlalu rompa. Samar-samar bisikan dari para tetangga masih terdengar.

*

“Songkok haji tidak masalah dipakai asal tidak dianggap wajib. Karena yang wajib sebagai penutup kepala itu kerudung bagi perempuan. Sedangkan bagi laki-laki hanya disunnahkan memakai penutup kepala pada saat salat. Karena rambut tidak boleh menutupi dahi saat salat. Boleh pakai songkok pute, songkok lotong, atau boleh juga pakai sorban.” Penjelasan Pak Ustad menjawab pertanyaan dari salah satu jamaah.

“Kalau tidak pakai songkok ustad, orang tidak tau kalau kita sudah haji.”

Sebagian jamaah lainnya manggut-manggut tanda setuju.

“Tidak masalah. Kita naik haji kan bukan untuk dipanggil pak haji atau bu hajja oleh manusia. Yang kita butuhkan adalah pujian dari Allah, bukan manusia.”

Pak ustad mengambil jeda “Lagi pula gelar haji itu tidak ada sebenarnya dalam islam. Di zaman Rasulullah juga tidak dikenal gelar itu. Lihat saja Rasulullah dan para sahabatnya sering pergi haji, tapi mereka tidak dipanggil haji. Itu hanya budaya di Indonesia saja. Silakan baca-baca sejarah lagi.” Pak Ustad menambahkan.

Daeng Minnong dan Daeng Rala saling berpandangan. Raut wajahnya menggambarkan kelegahan.

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (TQS. Al-Baqarah: 196).



Karya: Marwah Thalib - Pengurus FLP Cabang Maros (CAMAR)



Rujukan:
  1. Disalin dari karya Marwah Thalib
  2. Pernah tersiar di koran Fajar Makassar, Edisi 04/09/2016

September 25, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 25/09/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 25 September 2016 menyiarkan Puisi Lia Zaenab Zee dengan judul Berjalan Menuju Rumah-Mu dan Sebagai Embun yang Dimenangkan. Cerpen Muh. Galang Pratama berjudul Putri Karaeng. Apresiasi Muliyaty Arif dengan judul Aksi Literasi, Bukan Sekadar Membaca. Selamat! (*MgP)

M. Galang Pratama
Budaya Harian Fajar, 25/9/2016