August 06, 2016

Pelangon




SEPULUH tahun kemudian, seperti janjiku, aku mengunjungi Taman Wisata Pelangon untuk membuktikan kebenaran kata-kata nenek itu bahwa salah satu dari monyet-monyet yang menghuni taman wisata ini adalah ibuku. Aku keluar dari rumah secara diam-diam setelah menjerang air, menanak nasi, dan menyiapkan lauk-pauk untuk sarapan dan makan siang serta segala keperluan ayah. Aku berjalan berjingkat keluar melalui pintu samping. Ayah masih berbaring di kamarnya ketika aku mengintipnya lewat jendela sebelum berjalan ke arah jalan beraspal.

             Ayah akan marah kalau tahu aku pergi ke Pelangon. Bukan karena aku percaya kata-kata nenek itu, melainkan karena dia membenci ibuku yang telah mengkhianatinya. “Ibumu telah mati, Punang. Lupakan dia,” kata ayah setiap aku bertanya tentang ibuku. Lalu duduk menekur seperti memikirkan persoalan yang tak dapat dipecahkan. Wajahnya penuh gurat kasar. Matanya cekung dengan tulang pipi bertonjolan. Di atas kelopak mata itu selapis bulu-bulu halus serupa ditempelkan sekenanya.

             “Aku hanya ingin bertemu ibu, ayah. Aku ingin tahu perempuan yang melahirkanku,” ujarku, lahar panas menggenangi kelopak mataku. Begitu bencinya Ayah kepada ibu, hingga ia membuang semua benda-benda yang mengingatkannya kepada perempuan itu. Bahkan aku tak menemukan fotonya, atau foto pernikahan mereka.

           “Untuk apa bertemu orang yang tidak peduli pada kita,” suara ayah meninggi dan bergetar menahan kemarahan sekaligus kekecewaan yang begitu besar. Aku hanya diam menahan kesedihan, lalu masuk kamar dan menumpahkan airmataku di atas bantal. Esoknya, ketika aku pulang sekolah agak terlambat aku mendapati ayah ngos-ngosan, sepasang matanya tampak merah. Kata tetanggaku ayah baru saja mengusir rombongan topeng monyet yang tengah menggelar atraksi di tikungan jalan depan rumah. Ayah memang sangat membenci monyet. Tanpa berkata apa-apa, aku meninggalkannya ke kamar.

            Dalam kamar aku berpikir mencari cara bertemu ibu. Betapa besar keinginan itu. Tapi aku juga tak kuasa melihat ayah yang kecewa karena keinginanku. Sejak kecil, ketika aku mulai dapat mengingat, aku tak pernah mendapati ibu di rumah seperti teman-temanku. Ayah seorang diri dengan sabar dan telaten mengurusku.

           Ayah menyuapiku makan, mengantarku ke sekolah sebelum dia sendiri kemudian berangkat ke ladang. Sepulang sekolah, begitu tiba di rumah ayah telah menyiapkan makanan kesukaanku. Ayah selalu membelikan boneka dan mainan apa pun yang kuinginkan. Semua agar aku tak bersedih dan bertanya tentang ibu lagi. Begitulah bertahun-tahun ayah mengurusku sampai sekarang aku telah lulus aliyah.

         Terus terang sampai sekarang bagiku tak pernah terang mengapa ibu meninggalkan kami. Aku hanya tahu berdasarkan keterangan ayah bahwa ibu berkhianat. Apakah bentuk pengkhianatan ibu, aku tak pernah tahu. Ayah diam saja ketika kutanya, apakah ibu pergi meninggalkan kami karena laki-laki lain?

         “Ayah beri tahu, ibumu meninggalkanmu waktu umurmu tiga tahun. Apakah ini belum terang buat kamu, Punang?” begitu kata ayah selalu. Mungkinkah

Realitas Imajiner dalam Cerpen "Dunia Pertama" dan "Dunia Kedua"


HAMPIR semua cerpen merupakan realitas imajiner. Kecuali cerpen-cerpen “khusus” yang kdimaksudkan sebagai biografi singkat dan merujuk pada kenyataan yang dialami oleh tokoh (-tokoh)nya, seperti cerpen-cerpen perjuangan. Cerpen-cerpen seperti itu adalah “kisah-kisah” nyata, yang dialami sendiri oleh penulisnya atau yang dialami oleh orang lain dan ditulis oleh seseorang berdasarkan pengalaman tokohnya. Itupun amat susah untuk menampik campur tangan imajinasi pengarangnya.

Cerpen-cerpen konvensional lainnya dibagun di atas imajinasi pengarang. Meski demikian imajinasi tidak dapat dipisahkan dengan realitas. Imajinasi ditulis berdasarkan peristiwa-peristiwa realistis yang sering dialami sehari-hari, atau yang dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Fragmen-fragmen kehidupan yang mungkin dialami oleh seseorang atau beberapa orang dapat menyatu dalam cerpen, membuat jalinan kausalitas, membangun karakter, plot, setting dan seterusnya; maka jadilah cerpen. Cerpen-cerpen yang demikian disebut sebagai cerpen-cerpen dari dunia pertama, dunia yang kita geluti ini.

Dalam cerpen dunia pertama segala sesuatu masih dapat dikenali. Hukum-hukum alam yang konvensional berlaku di dalamnya. Demikian juga dengan hukum negara sebagaimana dalam KUHP, hukum sosial yang berlaku di masyarakat, adat istiadat/kebiasaan dan konvensi-konvensi lainnya. Jika seorang tokoh digambarkan jatuh dari apartemen lantai tiga maka hukum alam membuatnya mati. Hanya “keajaiban” --yang juga masih merupakan konvensi dunia pertama, yang akan menyelamatkannya dari hukum alam itu. Jika seseorang tokoh digambarkan membunuh, maka secara logis akan berhadapan dengan hukum negara (Pidana). Hanya keajaiban --sekali lagi “keajaiban” sebagai konvensi dunia pertama dapat muncul di mana-mana, yang dapat menghindarkannya dari jeruji penjara.

Konvensi-konvensi dunia pertama, dunia yang kita diami ini akan senantiasa menjadi “aksesoris” penting dalam cerpen-cerpen konvensional. Kendati semuanya hanyalah fiktif dan tak bisa dijejaki faktanya. Demikianlah misalnya ketika kita membaca cerpen “Pertengkaran” karya Wildan Yatim, kita tidak dapat mencari faktanya, meski Wildan menulisnya dengan sangat realistis.

Ada hal yang menarik pada jurnal sastra tertua AS, “The Atlantic Monthly”. Editor fiksi di jurnal ini merasa perlu melakukan check terhadap kebenaran fakta pada cerpen yang diterimanya. Sebuah cerpen yang mengambil lokasi di Plaza Hotel New York; dan dalam cerita itu pengarang menyebut penggunaan kunci kamar berbentuk kartu plastik. Tapi dari hasil pengecekan editor Plaza Hotel ternyata tidak menggunakan kartu sebagai kunci, melainkan kunci logam yang dimasukkan ke dalam lubang kunci. Karena itu editor harus merubah detail tersebut demi kebenaran. Tapi tentu saja hal tersebut bukan penyimpangan realitas. Ini hanya kebijakan editor yang berpandangan bahwa apa yang ditulis dalam sebuah fiksi adalah sebuah kebenaran yang tidak berpura-pura.

July 31, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 31/7/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 31 Juli 2016 menyiarkan puisi Arief Balla berjudul Hal-Hal yang Ingin Kulupakan, Kata-Kata yang Menolak Dikatakan dan Perihal Doa. Cerpen Maskur berjudul Ranting Patah serta apresiasi Badaruddin Amir dengan judul Realitas Imajiner dalam Cerpen Dunia Pertama dan Kedua. Selamat! (*MgP)