July 03, 2016

Kekasihku "Hujan"




AKU tak tahu persis bagaimana dalam prosesnya hujan membuat dunia menjadi lebih indah. Terlebih jika pelangi mewarnai setelahnya. Harum petrichor selalu menusuk rongga hidung, memaksaku untuk sejenak merenung. Sedari dulu, setelah hujan adalah waktu yang paling kusuka untuk merenung. Di dalamnya ada berjuta pesona. Terlebih lagi jika aku bisa melihat pelangi. Jika tidak pun, aku akan melukisnya dengan imaji. Di ujungnya berharap aku bisa melihat bagaimana para bidadari turun ke bumi. Entah di laut mana, atau sungai yang mana ia menyuci diri, masih menjadi misteri.

Sore ini beruntung, aku masih kebagian wangi petrichor itu. Sudah lama kami merindu November. Berjuta kesah tumpah ruah di bumi, dihisap oleh terik mentari, digumulkannya tuk sekian lama, hingga kesah itu diturunkanNya lewat kisah. Kisah di mana teriakan orang-orang yang merindu air. “Hore hujan!”, Alhamdulillah hujan!”, begitulah yang terdengar beberapa hari dalam seminggu ini.

Usiaku mungkin tak muda lagi. Nanti malam, pukul 2:30, jika langit masih memuntahkan isi perutnya, genap usiaku enam puluh tahun. Aku ingat almarhum ibu memberitahukanku ihwal itu. Mungkin itu juga sebabnya kenapa aku menjadi perindu hujan. Karena hujan menjadi saksi enam puluh tahun yang lalu di sebuah desa di Pulau Jawa, seorang yang kini hidup sendiri itu dilahirkan. Aku.

Bagiku, kesendirian itu hal yang menyenangkan. Tidak mengganggu, juga tidak diganggu. Sudah lama aku hidup seperti ini. Namun, aku tak merasa sepi. Sepi, bagiku, ketika aku tidak bisa menghirup wangi petrichor. Sepi itu pada saat aku tak dibelai basah. Entah mengapa, sampai detik ini, misteri itu selalu menjadi realita. Kata-katamu, sumpah-sumpahmu, benar-benar terbukti. Aku seperti ini.

Taukah kau, apa yang terjadi pada saat hujan tak kunjung turun? Hidupku bagai bramacorah yang diburu sejuta serdadu. Resah, gelisah. Meski keberanian setinggi langit, bramacorah selalu takut mati dalam kekonyolan. Begitulah aku. Itu yang kurasa kini. Sungguh berbeda kala dulu aku belum mengenalmu. Hujan atau tidak, itu sama saja.

Mungkin sudah titah Tuhan yang memerintah kedua ruh kita menggerakkan raga untuk saling bertemu. Di sebuah kekeringan. Di sebuah kerinduan akan air hujan. Di mana tanah sawah terpecah belah. Di dalamnya ada ikan khutuk kembangkempis bernapas dengan labirin-nya. Andai hari itu tidak hujan, hari itu juga ia akan mati. Begitu pun kita berdua pada sore itu. Setelah hampir satu tahun lamanya hujan tak kunjung datang, akhirnya Tuhan berbaik hati.

Aku melampiaskan sukacita itu dengan bermandi hujan. Bersama kerabat, mencumbu petrichor. Saling lempar-melempari, sudahnya kami bilas dengan derasnya hujan itu sendiri. Tentu kau masih ingat kenangan itu, bukan? Kaulah satu-satunya yang tersenyum di sudut sana. Melihat para lelaki bertingkah polah seperti anak kecil. Apa mungkin saat itu kita masih kecil? Mungkin juga memang masih kecil. Atau, baru beranjak meninggalkan fase menjadi anak kecil? Itu dulu, saat kau menunggu hujan reda di sudut sana. Di sebuah warung yang tak mewah milik Mbok Minah. Hingga akhirnya aku dengar panggilanmu itu, “Wiryo!”. Tanpa pikir panjang, aku