June 18, 2016

Mendaras Natisha, Mengaji Parakang



PARAKANG, sejenis ilmu hitam yang lumayan karib di jazirah Sulawesi bagian selatan, penganutnya mengamalkan ilmunya demi kekayaan dengan menikmati jeroan bayi atau manusia sekarat, serta terwariskan dengan sepenggal kata pamungkas: allei. Bisa menjelma menjadi seekor anjing, sebatang pohon pisang, atau kampoti yang bisa dimusnahkan dengan duakali pukulan pelepah lontar.

Perbincangan soal parakang, kembali menyeruak ke ruang publik ketika Khrisna Pabichara mengangkatnya dalam novel, Natisha (Javanica, 2016). Apalagi penulis mampu mendedah perkara parakang dengan data yang tidak biasa. Perihal upacara parakang sukkuk, misteri Kitta’ Kaparakangang dan Kitta’ Kelong Parakang menjadi daya tarik tersendiri.

Novel ini, membetot ingatan ke enam tahun silam, ke sebuah kumpulan cerpen anggitan penulis yang sama: Khrisna. Cerpen bertajuk Mengawini Ibu (Kayla Pustaka, 2010) yang dikemas ulang dengan imbuhan dua cerita, Laduka dan Pemburu Parakang diberi titelGadis Pakarena (Dolphin, 2012), menjadi semacam prekuel dari Natisha. Setidaknya ada empat cerita yang menguatkan itu: Selasar, Lebang dan Hatinya, Pemburu Parakang, danHati Perempuan Sunyi.

Bila Selasar menjadi tanda pengenal bagi Tutu, Lebang dan Hatinya memilin takdir Rangka dan Lebang yang terikat pada tradisi abbatte –duel untuk adu keberanian dan keampuhan ilmu Mancak Pore, silat khas Makassar, Pemburu Parakang menautkan Lebang (Natisha), Rangka, dan Tutu pada isu parakang, sedang Hati Perempuan Sunyi mengurai perburuan Tutu terhadap Rangka yang

June 12, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 12/6/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 12 Juni 2016 menyiarkan Puisi Lia Zaenab Zee dengan judul Mendidih Kesedihan 1 dan Tergelung Purnama 2, Cerpen Fahruddin Achmad  berjudul Aku Cinta Jam 1 Malam serta Apresiasi Risto dengan judul Mancak dan Doangang, Kearifan Leluhur Orang Makassar. Selamat! (*MgP)