May 14, 2016

Menadah Serbuk Api





Serbuk api jelma cahaya kunang-kunang
berpendar selayang pandang dipenggal jarak
mengapi-api di kegelapan memecah pekat
tapi tak jua menambal lubang gulita yang
menganga di kepala. menggeliat kisah yang
terus menerus meminang ceceran luka aib
dan malu. lebam meraja menjajaki naif
tapak
bulan-bulan api mengepung

Pecah tangis si kecil. membuyarkan sepi
yang
meriap-riap meriang di cangkang paru
lengang harap. tak ada siapa-siapa. ia jejak
khilaf yang harus dicahayai sendirian
memaksa renteng denyar jantung 'tuk
mendetakkan liar semangat sem

Ledak Laku




Bulan menguning dikelupas musim
Carut rimbunan berita berseliweran di mata
Tentang tabik dada menjadi peluru ledaklaku
Hedonis pantik keserakahan dan jemawa
Mengobarkan kuku runcing saling mencakar

Picik tabiat ibarat bohlan lupa dimatikan
Panasnya membuat melepuh tapi harga diri
justru lupa dinyalakan nurani. Amanat beku
di kitab-kitab arif sebeku rasa

Senyum Merenangi Perahu Takdir




Adalah senyum berulang-ulang menafsir
jejak bagi keteduhan. berenang di perahu
sejoli takdir yang karang. ia madu pelipur
tempat disembunyi luka yang langu

Masih mengibas selendang gemulai,
mengenang pelayaran yang sabung
jentera panjang gelombang
dan lidah amuk badai

Semata senyum yang bisa menyimp

Ruang-Ruang Arsiran




Kalender menggaris waktu yang terarsir
menghimpun kisah. jadi album kenang
di ceruk detik-detik yang terus mendentam
melukis ruang peradaban

Dalam suratan takdir yang sempurna
Bumi dan langit adalah rumah rahim
pengasuh segala peristiwa tersusun
dan terbaca sebagai kenangan
susup menumpuk lalu tersimpan
di dahi-dahi anak manusia

Disusui oleh zaman melaju oleh takdir
Pada 'sunnatulah kesejatian' lalu Adam
diberi pilihan pada buah khuldi ter

May 08, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 8/5/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 8 Mei 2016 menyiarkan Puisi Lia Zaenab Zee dengan judul Ruang-Ruang Arsiran, Senyum Merenangi Perahu Takdir, Ledak Laku dan Menadah Serbuk Api. Cerpen Rani Ar Rayyan berjudul Roti untuk Bapak dan Kenangan Tentangnya serta Apresiasi Sabir (S. Gegge Mappangewa) berjudul Pappaseng, Peribahasa Penuh Petuah. (*MgP)