April 22, 2016

Soal Ujian





Apakah cinta telah memenuhi ruang tubuh kita
sehingga volumenya terukur jelas?
–Seberapa besar?

Itu pertanyaan yang kuajukan ke diri sendiri sebelum
bel ujian mengantarku pada istirahat denganmu di suatu hidup
dan nilai-nilai akhir terukir sebagai epitaf di tembok kantin.

                                                                 (Makassar, 2015)



Karya: Batara Isra


Rujukan:
  1. Disalin dari file Andi Batara Al-Isra
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 10 April 2016

Tak Sekadar Rindu yang Membawa Semuanya Kembali




SAYA AMAT tidak percaya, demi apapun—bahkan demi cinta yang pernah meyakinkan diri saya, katanya rindu selalu mampu menciptakan hujan buatan tanpa tanda-tanda yang meyakinkan. Anggapan seperti langit gelap, gemuruh di atas langit atau apapun itu,tak perlu meyakinkan perasaan siapapun. Hujan yang diyakini mampu menggenangi tidak hanya sebuah titik kerendahan, dataran yang paling tinggi pun seyogyanya tergenangi olehnya, atas kepergian yang nyata dan delusi cinta yang menciptakan alusi yang berbeda—menunggu ketetapan serta ketepatan waktu untuk tiba. Ya, selalu saja begitu, kebanyakan dari kita yang pernah merasa ditinggal pergi oleh yang pernah ada kian memudarkan kedatangannya.

Mungkin maksudnya begini, tak ada yang betul-betul ingin merasakan rindu yang disengaja, tidak ada perasaan cinta yang benar-benar tahu ke mana arah langkah selanjutnya ketika kesedihan, kekecewaan, hingga putus asa mulai menandamatai kesedihan. Atau seperti ini, tak ada yang mungkin tahu seberapa kuat kekuatan rindu yang dimiliki untuk mengembalikan sesuatu yang pernah merasa saling memiliki. Padahal, ada satu hal yang secara jelas mengundang semuanya—bahkan kenangan yang tak pernah diakui oleh pemiliknya. Ya percayalah, bukan sekedar rindu yang membawa kita pulang, sebab luka juga adalah jalan pulang itu sendiri.

Sebagai pembaca, awalnya saya mengetahui buku rain and tears itu dari suara-suara lamban di kampus. Suara-suara yang menolak untuk kita dengar sebenarnya. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, misalnya bahwa buku dan kampus seraya pipi dan lesung pipit—jika tersenyum, wajah yang ditinggalinya itu seperti ibarat perpustakaan dengan buku-buku bagus dan pembaca yang menyukainya—serta pelayanannya yang baik, termasuk laki-laki yang berambut panjang. Tidak ada senyum yang menolak hadirnya lesung pipit, bukan? Atau seperti senyum dengan gigi yang berginsul, aduh. Apalagi berkuliah di fakultas sastra, tidak mau ataupun tidak, kata bukulah yang selalu terdengar dan didengar, setelah diskusi, musik, cinta, kesedihan hingga keresahan.

Sewaktu masih membaca bukunya, jadi saya mencoba jujur terhadap diri sendiri tentang cinta, selain buku ini adalah buah kepercayaan, kasarnya sebagai pinjaman dari seorang teman. Seperti mendengar seorang teman yang curhat, di lembar pertama novel tersebut sudah jelas, sang penulis mendeklarasikan diri sebagai seorang narrator yang cukup dewasa dengan kisah percintaannya yang remaja. Saya tidak terlalu paham tentang remaja, walau pada hakikatnya, sebelum membaca novelnya atau menulis ini, saya mengalami dunia remaja itu sendiri—dan sepenuhnya, saya tidak menyadarinya dengan jujur. Bahkan ketika perasaan menyukai telah melepaskan

April 17, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 17/04/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 17 April 2016 menyiarkan Puisi Arimbi A.S dengan judul Impresi Noktah Abu-abu; Kancing Baju; dan Air Mata Doa. Cerpen Didin Daeng Ronrong berjudul Istri Sang Dukun Sakti serta Apresiasi Chaeruddin Hakim berjudul Tafsir Kelong - Mengungkap Makna Syair "Ammak Ciang." (*MgP)

M Galang Pratama
Rubrik Budaya Fajar Makassar, 17/04/2016