March 08, 2016

Tidak Sakit

BANYAK PERCAYA ruangan itu adalah tempat di mana keputusasaan berlabuh. Ruangan ini berseliweran darah, tangis, dan histeris. Namun berbeda dari Darius, ruangan berbilik-bilik ini memberinya penghidupan yang layak juga kemewahan. Kematian adalah hidupnya. Dia dapat menatap sakratul maut berseliweran sedingin mayat, tanpa emosi, perasaan, dan empati. Terlalu repot buatnya.

Di salah satu biliknya berbatas tirai, terbaring seorang pasien perempuan lanjut usia. Mata putihnya terlihat. Nafasnya lambat dan berat walaupun mulutnya tersuplai oksigen dari sungkupnya. Tubuhnya sedikit bergetar seakan menolak dijemput maut. Darius berada di sampingnya fokus menatap grafik EKG[1], Seorang perawat sedang sibuk melakukan tensi dan mengecek cairan infus yang mengalir ke dalam pembuluh darah pasien tersebut.

Adalah anak lelakinya yang sedang memegang tangan si pasien. Anak perempuannya, berada di sampingnya terisak-isak dengan volume yang dikencangkan. Darius berusaha tidak peduli akan gangguan itu. EKG terlihat lurus. Ia menanyakan detail kondisi pasien kepada perawat.

Ia berbisik pada anak lelaki, untuk berbicara atau bernegosiasi di luar bilik. Berceritalah tentang kondisi Si Pasien itu panjang lebar. Bisa dibilang Darius cukup ahli dalam hal menghakimi hidup-mati.

“Maaf, kami sudah membantu sebisa kami, dan kami tidak bisa banyak membantu, seandainya saja ibu di CT Scan dan operasi kami bisa.….”

Belum ia selesai bicara, Tiba–tiba dari belakangnya seorang lelaki lanjut usia memakai peci khas lokal menegurnya,

“Ndi, adik saya ini tidak sakit, dia cuma kerasukan roh buyut saya yang rindu anak-cucunya. Tidak butuh operasi...”

“Maaf panggil saya dokter,” pungkasnya.

Selama beberapa detik terjadi kekosongan. Terlihat kantong plastik, Tersembul ujung botol air kemasan, entah apa sisa isi lainnya.

“Saya akan buktikan,” ujar Si Kakak.

Darius kemudian melihat kakak pasien tersebut berkomat- kamit membacakan sesuatu kepada Si Pasien. Bahasa itu tidak pernah didengarnya dan kesannya sangat primitif. Sayangnya itu tidak ada di dalam textbook dan pendidikan kedokteran yang menempanya bertahun-tahun di Inggris, juga seminar dan workshop kesehatan Internasional.

Darius kemudian duduk dengan kesal di meja yang berada tepat di depan bilik itu. Teringat pemeriksaan CT dan Operasi yang disarankannya hanya beberapa juta saja.

“Jadi bagaimana dengan pasien tadi dok?” tanya perawat.

“Cabut saja perlengkapannya, percuma saja perawatannya dilanjutkan, Tensi dan nadi hampir hilang. Operasipun menolak. Apa lagi yang diharapkan ? ”

Perawat kemudian mengangguk, ia kemudian curi pandang ke bilik pasien tersebut lewat sela tirainya. Ia melihat bagaimana Si Kakak menyemburkan air dari mulutnya seperti hendak memberi hujan ke tanah kering. Ia tersenyum kecut.

“Kalau mau gratisan, seharusnya dia mengurus Surat Jaminan Sosial dan Kartu Pengenal di desanya.” ujarnya

“Kakaknya yang tadi itu orang pintar kampung dan tidak ingin dirawat di sini. Bidan Puskesmasnya saja yang memaksa” imbuh perawat tersebut.

Seluruh staff di ruangan itu tahu, bahwa orang pintar kampung itu mengacu pada sandro, dukun selama ini menjadi hal yang dibenci Darius. Beberapa kali dirinya terlibat perdebatan dengan kepala dinas perihal penangkapan praktek pengobat tradisional di daerah ini yang dianggapnya malpraktek. Bahkan dirinya bersama polisi turun langsung penangkapan beberapa sandro kampung yang dituduhnya melakukan praktek aborsi dan penipuan. Ternyata salah seorang musuhnya kini berada seruangan dengannya, di depannya, di wilayah kuasanya dan seakan menantangnya. Saya pasti pemenangnya. ujar dalam hati Darius

Ia sering membandingkan kondisi tempatnya ini dengan rumah sakit ibukota tempatnya dulu bertugas, Penanganan cepat dan tepat senantiasa dilakukannya. Orang metropolitan dianggapnya memahami dokter dan obat selaku nabi ilmu pengetahuan. Tapi tujuannya hanyalah isi rekening dan masa depan. Di daerah sangat terpencil inilah pundinya menjadi cepat berlipat.

Pamannya, kepala daerah yang baru saja terpilih di sini. Jabatan kepala rumah sakit dipastikan untuknya dua tahun depan. Dengan koneksi serta cap lulusan luar negeri, tak ada yang berani melawannya sekarang. Terbukti setelah kepala dinas lawan debatnya telah dimutasi beberapa bulan lalu.

Darius kemudian melihat jam dinding di atasnya menunjukkan pukul empat dini hari. Pagi atau malam tak dapat dibedakan dalam ruangan yang selalu terang ini. Tak ada seorangpun memusingkan jam atau detik di sini. Hanya kemenangan antara hidup dan mati menjadi penanda akhir waktu.

Secangkir kopi dan, belum disentuhnya semenjak permulaan shiftnya. Beberapa jam lagi shift malamnya akan segera berakhir, Darius kembali ke mejanya dan mulai menulis laporan jaga untuk dokter penggatinya. Tercium olehnya asap dupa dari bilik di hadapannya. Perawat kemudian bergegas ingin memberi tahu untuk mematikan, namun Darius menahan.

“Biarkan saja. Siapkan saja laporan kematian ke kamar jenazah dan

March 06, 2016

Bara di Ujung Pattiro


#15 Juli 1905

Malam mulai meremang, magrib pun sudah menjelang ketika utusan Dulung Pajalele menemui I Mattappa di rumahnya.
“Petta Dulung menunggu kedatanganmu seusai magrib di rumahnya. Penting.”
Pesannya singkat, tak ada penjelasan tambahan. Utusan yang merupakan orang kepercayaan Dulung itu berlalu dengan tombak di tangan kanan dan obor penerang di tangan kiri.
Seusai berwudu di gumbang, tempayan dekat kaki tangga depan rumahnya, I Mattappa menapaki satu persatu anak tangga dengan pikiran bercabang. Ada apa gerangan Dulung Pajalele yang juga masih sahabat almarhum bapaknya, memanggilnya begitu mendadak? Jangan-jangan hubungannya dengan I Patimasang, puteri Dulung Pajalele sudah ketahuan? Seusai salat, dia menuju rumah Dulung Pajalele, memenuhi panggilan mendesak yang entah karena apa.

“Tentu kau kaget kupanggil mendadak, Nak.” Dulung Pajalele membuka pembicaraan.
“Iyye', ada apa gerangan saya dipanggil oleh Petta, Puang.” Jawabnya sambil membetulkan duduknya. Mereka bersila berhadapan di atas tikar pandan.
“Keadaan Kerajaan lagi genting, Nak.”
I Mattappa hanya terdiam, Dulung Pajalele melanjutkan tuturnya.
“Kemarin, Batara Tungke'na Bone menerima surat dari Kolonel Van Loenen, Panglima Tentara Ekspedisi Hindia Belanda.”
“Apa isi suratnya, Puang?” Di bawah cahaya pelita yang meliuk-liuk, muka I Mattappa terlihat menegang mendengar Hindia Belanda disebut.
“Ultimatum, Nak. Bila Bone tidak memberi mereka kekuasaan penuh di BajoE, mereka akan menyerang dalam 15 hari...”
“Kurang ajar!” Seru I Mattappa, tinjunya menghantam lantai rumah. Ota-otang, peralatan sirih-pinang Dulung Pajalele sampai terpelanting.
“Tenangkan dirimu, Mattappa!”
“Maafkan saya Petta, Puang. Tapi saya tak bisa terima kita dipermalukan begini.” I Mattappa merendahkan muka, menyadari keberadaannya.
“Kita semua tentu tak terima penghinaan ini, tapi jangan terburu emosi. Sekarang pulanglah, besok kau temani aku menghadap ke Petta PonggawaE untuk memastikan langkah selanjutnya.”
“Iyye', Puang.”


#12 Juli 1905

Seusai mengantar makan siang untuk para pekerja di sawahnya, I Patimasang beranjak pulang. Namun di sebuah dangau yang tepat berdiri pada batas persawahan dan hutan kecil di ujung kampung, perjalanannya terhenti. Dia dicegat oleh I Mattappa, sahabatnya sejak kecil.
“Daeng, kenapa mencegat saya di sini?” Seru I Patimasang kaget, namun sejurus kemudian dia tersipu, tertunduk malu. Tangannya mempermainkan jalinan bunga melati di simpolong-nya.
“Tak bolehkah saya sekedar ingin berjumpa denganmu dan tak perlu alasan?” Jawab I Mattappa sekenanya.
“Bukan begitu, Daeng. Tapi bukankah ini melanggar pangadereng? Adat yang kita pegang teguh?” Suara I Patimasang terdengar cemas.
“Apa I Saleha sudah menyampaikan paseng na selleng uddanikku? Pesan dan salam rinduku?” Sambil menggaruk-garuk kepalanya.

I Patimasang tak bersuara, hanya mukanya yang kian ditekuk dan bersemu merah.
“Kenapa tak menjawab, Andi’. Aku membutuhkan jawabanmu sekarang.” Sambil mempersilahkan I Patimasang duduk. Siang yang hening, angin berhenti berkesiur.
“Ataukah dirimu sudah bunga ri palla’? Sudah dalam pinangan?” I Mattappa menatap tajam ke arah I Patimasang. Yang ditatap cuma mampu memalingkan wajah. Mukanya tersenyum, hatinya ikut tersenyum. Tapi dia tak mampu menjawab tanya I Mattappa.
“Andi’, jangan membuatku sajang rennu, saya tak sanggup patah hati.” I Mattapa terus mendesak.
“Saya ingin menjadikanmu tau ri tangke’na atikku, ratu di singgasana hatiku.”
Mata I Patimasang membelalak, seakan tak percaya kata-kata I Mattappa yang demikian berani.
“Patimasang, Ikau tau ri tangke pulana-ku. Kita ditakdirkan bersama. Kau mau kan?” Lanjut I Mattappa. Mendengar itu, I Patimasang berdiri dari duduknya, manatap manja ke arah I Mattappa dan mengangguk halus. Lalu disingsingkannya ujung sarungnya dan berlari pulang menyusur pematang sawah.

Sepeninggal I Patimasang, I Mattappa menutup mata, menengadahkan kepala, dan menarik nafas panjang. Dia mencoba menenangkan diri dari gairah rindu yang membuncah, cinta yang berbalas cinta.
Dia keluarkan badik yang selalu tersampir di pinggangnya. Dengan ujungnya yang runcing, dia mengukir bait pujian pada I Patimasang di lantai papan dangau.
Macole adanna / Makanja kedona / Malebbi ampena
Ikau tau sukku / Ikau tau ripojikku / Ikau tau ri tangke’ pulanaku

#17 Juli 1905

“Poleni temmakkuae, kita tak ada pilihan.” Dulung Pajalele membuka pertemuan sambil

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 06/03/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 06 Maret 2016 menyiarkan Puisi Lula Arimbi dengan judul Menyimak Hujan yang Jatuh di Tubuhmu Siang Ini; dan Sebelum Berangkat. Cerpen Kasman McTutu berjudul Bara di Ujung Pattiro, serta Apresiasi Ishak R. Boufakar berjudul Khadijah, Wanita Penghuni Surga. (*MgP)


M. Galang Pratama
Cerpen Kasman McTutu, Koran Fajar, 06/03/2016
(Sumber gambar di-copy dari Facebook Kasman McTutu)

M. Galang Pratama
Apresiasi Ishak R. Boufakar, Koran Fajar, 06/03/2016
(Sumber gambar: di-copy dari Facebook Ishak R. Boufakar)

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 06/03/2016

Rubrik [Hiburan] Seni Koran Kompas edisi 06 Maret 2016 menyiarkan Cerpen MARTIN ALEIDA berjudul Asmara dan Kematian di Perbatasan Tiga Negara. (*MgP)

Seperti Puisi



Jika bersamamu adalah luka
Maka biarlah aku menjadi kata 
Jika hanya kecewa dan penyesalan yang kubawa 
Selepas kita bertemu, hanya air mata yang kau kabarkan padanya 
Tiada lagi kata, untuk bisa mempertahankan kita.
Kuharap kau bisa bersenda gurau pada kerabatmu 
Pada semua orang yang menjadikanmu ratu 
Aku akan datang ketika puisi telah menjelma jadi waktu 
Yang menjadikan kita bersatu dalam tali yang padu.
                                                                              Makassar, 2016



Karya: M Galang Pratama

Rujukan:
  1. Disalin dari Notes Facebook Galang Pratama Muhammad
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 28 Februari 2016

Sastra Cyber: Generasi Teks dan Pencinta

“Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan."
(Erich Fromm)

PARA PENGGIAT sastra cyber percaya bahwa karya sastra yang mereka kerjakan dan dipublikasikan melalui medium internet adalah bukan semata teknologi informatika. Lebih dari itu, yang mereka kerjakan adalah sebuah keniscayaan hasil peradaban dan kebudayaan. 

Sastra cyber bukan sebuah barang yang pantas dipolemikkan jika para tukang polemik itu mau memahami sejarah. Pastilah mereka belum tahu bagaimana ketika seorang manusia di zaman batu yang belum mengenal kertas, tiba-tiba menemukan ruang ekspresi di dinding gua. Pengalaman batinnya yang sederhana dituangkan melalui lukisan guratan batu dan tulang di media dinding gua. Kertas pun ditemukan, ekspresi manusia berpindah medium ke media cetak. Radio dan televisi pun datang, muncullah berbagai wadah ekspresi yang baru, juga yang aneh-aneh. Internet pun datang, muncullah ragam wadah baru yang lebih kompleks tapi justru juga diikuti tukang polemik.

Sastra cyber tetap saja bagian dari budaya teks. Lebih dalam lagi, pesastra cyber lebih layak masuk kategori generasi teks. Generasi teks adalah angkatan yang menjadikan tulis-menulis sebagai bagian penting, dalam hal-hal sekecil apapun. Teks mereka tidak hanya di internet. Mereka ada di mana-mana, dalam SMS, dalam BBM, dan lain-lainnya. 

Sastra cyber disepakati sebagai sebuah revolusi. Sebagaimana internet menjadi revolusi media kedua setelah penemuan mesin cetak Guttenberg dan ketiga setelah kehadiran televisi. Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media seperti sastra majalah, sastra koran, dan sebagainya. Ketika biaya publikasi semakin mahal, keberadaan sastra cetak pun dirasa telah membangun hegemoninya sendiri, internet pun datang. Komunitas-komunitas sastra maya bermunculan. Dengan memanfaatkan teknologi dan kreatifitas internet menawarkan iklim kebebasan, tanpa sensor. Semua orang boleh memajang karyanya, dan semua boleh mengapresiasinya.

Sangat ironis, tantangan di Indonesia justru muncul dari dunia sastra sendiri. Sekali waktu sastra cyber, dengan sifatnya yang bebas itu pernah dituding oleh beberapa pihak sebagai sekadar ajang main-main sehingga karya-karyanya pastilah tak bermutu. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, saat ini eksistensi karya sastrawan cyberpun sudah mulai makin diakui oleh masyarakat, walau untuk apresiasi mungkin masih dipandang sebelah mata oleh sebagian “kelompok sastra mapan”. 

Penggunaan istilah sastra cyber sendiri secara gamblang menyatakan

Salah



"Apakah waktu?" tanyamu
Karena renungan hanya diperuntukkan kepada
sebahagian saja pada waktu itu.
Sedang banyak lalai, banyak lupa
Terus saja menikmati isi dunia
Padahal kalau sadar akan sakit rasanya
Jika Tuhan juga punya benci kepada hamba-Nya.
Kau berkata lagi:
"Mungkin waktu yang salah"
Hingga benar-benar jiwa terketuk, sambil
kaurasakan jernihnya air mata mengalir deras
dari matamu. Lalu kau pun tersadar: ternyata jadi
penguasa tak selamanya mampu menyelamatkan.
                                                                      2015


Karya: M Galang Pratama


Rujukan:
  1. Disalin dari Notes Facebook Galang Pratama Muhammad
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 28 Februari 2016

Suara Senyap


Sengaja membiarkan suara itu berpendar dengan
sendirinya. Kalau saja sinyalnya redup, matilah
sudah. Harapan yang dulunya terang seketika
berubah menjadi asing. Tanpa amanat!

Laksana api-merah yang menyelimuti sang
calon. Sedang di sekelilingnya ada angin yang
mendinginkan suhunya. Lalu, mengapa ia tak
pernah lelah bersuara?
Tak seperti binatang. Bahkan ia adalah
hewan. Yang kadang menghilang ketika media
menyatakannya bersalah. Ia katanya tak bisa
dijadikan pantun, apalagi puisi.

Kalaupun itu adalah suaramu. Semoga bukan
berasal dari kerongkonganmu.
Sebab kau tak