March 04, 2016

"Puisi Panggung" dan "Puisi Kamar"

AWALNYA MEMANG penyair menulis puisi bukan untuk dibacakan di depan umum. Melainkan untuk dibaca dalam hati agar maknanya dapat diserap dan direnung oleh pembaca. Tradisi pelisanan puisi di depan umumlah yang mengembangkan situasi itu sehingga dikenal pula cara-cara sosialisasi lain, yaitu pembacaan puisi atau “poetry reading”. 

Tradisi tersebut sebenarnya sudah ada sejak dahulu, yakni sejak tradisi kelisanan. Para pujangga membacakan karyanya di depan sidang para raja yang malas membaca. Namun baru dikenal secara luas sejak tahun 1966. Pada era tersebut tumbuh gerakan sastra bernama “Angkatan 66”. Para penyair dan juga seniman-seniman lainnya tidak mau tinggal diam hanya sekadar mencatat peristiwa-peristiwa pergolakan yang terjadi di masa itu.

Mereka perlu meletupkannya sebagai bentuk perlawanan. Mereka menggunakan sastra sebagai salah satu alat melawan tirani kekuasaan. Maka tercatatlah para penyair muda yang memiliki elan vital seperti Taufik Ismail, Abdul Wahid Situmeang, Mansur Samin dan lain-lain yang sering membacakan puisinya di depan para demonstran, menyuntikkan semangat perlawanan terhadap kekuasaan orde baru yang tiran.

Dan sekembali dari Amerika pada tahun 1967, penyair muda berbakat WS. Rendra yang dikenal dengan julukan “si Burung Merak”, telah mengemas dan menjadikan pembacaan puisi sebagai tontonan yang menarik publik dan mendapat apresiasi yang luas di tengah masyarakat. Dari pembacaan puisi WS. Renda kritik sosial berlompatan.

Pembacaan puisi ala WS. Rendra ini lama menjadi model pembacaan pusi di Indonesia. “Poetry Reading”, demikian istilah populernya, kemudian menjadi salah satu bagian dari lomba-lomba siswa di sekolah menengah sampai ke perguruan tinggi, menggeser istilah “Bersanjak” (Deklamasi) yang dulu kita kenal menghafal puisi di panggung dengan gerakan kaku. Perbedaan antara model “Baca Puisi” (Poetry Reading) ini dengan “Bersanjak” (Deklamasi) memang tidak saja terletak pada karakter performan-nya, tapi juga pada materi.

Poetry Reading dilakukan dengan membaca puisi sambil membawa naskah puisi yang dibacanya, walaupun naskahnya sudah dihapal luar kepala, sedangkan “Bersanjak” (Deklamasi) tidak membawa naskah puisi, karena itu naskahnya harus dihafal sebelumnya. Di samping itu, ada kesan pembacaan “Sanjak” harus dilakukan dengan gerakan-gerakan “resmi” yang sangat kaku dan tidak memiliki kebebasan bergerak, sedangkan pada pembacaan puisi gerakan, ekspresi dan mimik adalah milik pembaca yang bebas untuk digunakan sesuai dengan karakter dan tuntutan puisi yang dibaca. Karena itu pembacaan puisi biasanya lebih kreatif dan variatif.

Munculnya pembaca-pembaca puisi kreatif, seperti Sutardji Calzoun Bachri yang membawa kekuatan magic dengan “kemabukannya” di panggung menciptakan kontroversi pembacaan puisi di Indonesia. Demikian kreatif Sutardji bukan hanya puisi-puisinya yang dinilai inkonvensional itu, tapi juga cara membaca puisinya di depan publik. Ia membaca puisinya sambil menenggak bir dan menjadi mabuk. Pada sebagian orang ia memberi kesan dilematis: puisi yang dianggap sebagai wacana ‘agung’ itu disampaikan dengan cara ‘nista’ (mabuk-mabukan).

Sebagian lagi mengapresiasi kemabukan Sutardji sebagai sarana untuk mencapai kondisi ‘intance’, yang menyatukan dirinya dengan puisi mantra-nya, sebagaimana konon para darwis yang yang mengekspresikan keimanannya melalui tarian kemabukan diiringi musik Parsi dan lirik-lirik puisi Rumi.

Kemunculan pembaca-pembaca puisi lain yang tak kalah kreatif seperti Sosiawan Leak, Jose Rizal Manua, Iman Soleh, Amin Kamil, Godi Suwarna, Samar Gantang dan Asrizal Nur telah menjadikan pembacaan puisi sebagai media seni teatrikal. Bahkan Asrizal Nur telah membawa pembacaan puisi ke tingkat tinggi melalui pentas pembacaan puisi multimedia-nya yang

Pedang dan Perisai Perang

perang telah sejak lama selesai,
telah kupulun pula segala perisai,
yang pernah terabaikan pedang,
pedang pada kilat matanya,
mata yang cuai pada tajam,
tajam yang lupa pada batu asahan,
batu yang alpa pada gesekan,
gesekan yang tak perduli sepi,
sepi yang mengiris-ngiris janji

bukankah kau juga yang menyatakan,
perang terhadap kaumku di muka sultan,
kau pilin segala yang belum terjalin,
kau jalin benang merah hitam putih,
yang dititiskan datu berjanggut pasi,
biar segala tajam bersimpul ke mata pedangmu,
dan aku masih menggenggam pedang sana lenggam,
yang dititiskan moyangku dari selatan,
bukankah kau juga yang menghardik datu dan hulubalang,
yang terpaksa menjadi sekutumu,
padahal kau hanya memupuk cemburu pada sultan,
hilangkanlah tondi hitam dalam dirimu,
juga igau pada

March 03, 2016

Pendongeng

                                                         __Bagi Raedu Basha dkk.

kami percaya, segala yang ditetau kembali tumbuh,
dari segala yang menjulang akan kembali merunduk

kami pun menunggu embun segar di pucuk-pucuk,
dan kemurnian daun-daun tembakau, getah karet

aroma damar, yang tercatat dalam kitab dan traktat,
bau kopi, wangi cengkih, rempah yang beraroma kuat

kami percaya, segala yang ditebas kembali meranggas,
dengan segenap kesungguhan, rebana ini kami tingkah

suara yang akan menggetarkan orang-orang Bhalanda,
gemerincing-gemerinc­ing asahan celurit tanah Madura

kami jaga rimba ini, dengan sepenuh cinta yang tak terkata,
kami tegakkan sekolah-sekolah dari cinta yang pernah tergadai

tak ada pedang di sini,

February 28, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 28/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 28 Februari 2016 menyiarkan Puisi M Galang Pratama dengan judul Suara Senyap; Salah; dan Seperti Puisi. Cerpen Dhihram Tenrisau berjudul Tidak Sakit, serta Apresiasi Badaruddin Amir berjudul "Puisi Panggung" dan "Puisi Kamar"(*MgP)


M. Galang Pratama
Budaya Koran Fajar Makassar, 28 Februari 2016
|Foto by MgP|

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 28/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 28 Februari 2016 menyiarkan Puisi MAY MOON NASUTION dengan judul Pendongeng; Pedang dan Perisai Pedang. Dan Puisi HASAN ASPAHANI berjudul Bayangan Pohon; Anak dan Pohon; Di Rumah Penyair; Kartu Katalog; Pesan; Ajalmu Jauh di Pulau; Jarak antara Bermimpi dan Terjaga. Cerpen DES ALWI berjudul MARDI. (*MgP)