February 22, 2016

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon?

Koran Mingguan MgP
Karya Claudia Clara

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya.

Ketika perang kembali pecah, awal 1947, yang orang-orang temukan tentu saja bukan pohon asam, tetapi kira-kira seperti ini: kami bergerombol digiring seperti kerbau. Kaki tangan kami dikekangi tali dari pilinan daun pandan. Bedil Belanda menuntun dengan moncongnya — dan sesekali mempercepat langkah kami dengan popor yang mendarat di tengkuk atau tulang kering. Kami tahu, beberapa saat lagi hidup kami akan direnggut satu demi satu.

***

Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.

“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.

“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen — DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.

Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan — dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.

“Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”

Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang

February 21, 2016

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 21/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 21 Februari 2016 menyiarkan Puisi RIKI DHAMPARAN PUTRA dengan judul Obituari Buluh; Meratap-ratap di Dapur One; Bukit Jagung Lamaholot Cerpen FAISAL ODDANG berjudul Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon. (*MgP)

Koran MgP
Puisi Riki Dhamparan Putra, Kompas 21/02/2016  |Photo  by MgP|

Koran Mingguan MgP
Cerpen Faisal Oddang, Kompas 21/02/2016    |Photo by MgP|

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 21/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 21 Februari 2016 menyiarkan Puisi Murni Mukhtar dengan judul Melihat Kabisat; Rindu Lelah; dan Sunyi yang Hilang, Cerpen Dikpa Lathifah berjudul Guna-Guna serta Apresiasi Israwaty Samad berjudul Sastra Siber, Generasi Teks dan Para Pencinta. (*MgP)