February 10, 2016

Mengatasi Kota dengan Kacamata Kata, Studi Kekuatan Mata Minus

Satu

Orang-orang ada untuk keadaan orang lain yang pura-pura, mereka menutup mata dan hanya bermain mata dengan kata-kata buta, tak ada rupa dan lupa bahwa perhatian hanya untuk manusia-manusia yang mendekati sempurna. Tak ada lagi penghargaan sesama, penghargaan hanya sebatas menghargai perbedaan saja, pun secara terpaksa dan dipaksa. Kota ini disulap hingga dipaksa menyamai surga, tapi yang terasa justru sebaliknya. Kejahatan di mana-mana, di setiap sudut jalan ramai hingga legang dengan orang-orangnya berjalan kaki, menikmati udara lembut sapuan pohon-pohon buatan. Manusia-manusia lebih suka bernafas dalam mobil, bepergian ke tempat-tempat hiburan gelap dan melupakan terang. Dunia ini sudah sepantasnya lelah dan meminta ditinggalkan.

Dua

Jalan untuk orang-orang dan kakinya sudah dilupakan. Menikmati hujan tidak lagi dengan payung, namun jas yang menutupi seluruh tubuh, menegaskan bahwa hujan sangatlah berbahaya. Dibanding dengan kata-kata, kejahatan akibat melupakan adalah kesendirian dalam hati dan diri sendiri.

Pasang ri Kajang, Suara Orang-Orang Dalam

1.
Kami ada mencintai tanah
dan tanah kami anggap seperti ibu kandung,
yang mengajarkan kami menerima sedih tanpa sesal.
Bersiap menanggung duka lara,
airmata yang menerima selain kesedihan.
Meski, runcing jalan penuh bebatuan menjeritkan tapak.
Kami tetap berjalan bertelanjang kaki.
Demi paham pasang yang serupa perut yang berisi manusia.
Bakal jadi tabungan kami membaca alam,
sekalipun lukisan memuat mini kehidupan yang luas membentang.
Pasang menjadi kejut yang tak pernah usai

February 08, 2016

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 07/02/2016

Rubrik Seni Koran Kompas edisi 7 Februari 2016 menyiarkan Puisi Inggit Putria Marga berjudul Kado dari Ina, Jika Aku Menulis Puisi, Dalam Rimba Kepalaku, dan Seorang Korban, Cerpen Rafael Yanuar dengan judul Arwah Kunang-Kunang. (*MgP)

February 07, 2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 07/02/2016

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi 07 Februari 2016 menyiarkan Puisi Wahyu Gandi G, Cerpen Hardiansyah Abdi Gunawan dengan judul Untukmu Kekasihku, Mey serta Apresiasi Rachmat Faisal Syamsu berjudul Catatan Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP); Jihad yang Tepat Tanpa Kekerasan. (*MgP)