January 18, 2016

Obituari Puisi

                                      -bagi pembaca yang beriman

Dari bohlam lampu yang jatuh dari langit kamar, dan
pecah kaca di pelataran tikar, aku membaca geliat cuaca
dan seruan naluri ihwal suatu kabar
konon katanya dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa
Kundera memandang bayang sekelompok orang menari
melayanglayang melampaui ubun kafekafe Praha yang penuh
oleh penyair menyeduh kopi demi lapar menggelombang dalam tubuh

Seumpama Kata

seumpama kata
kita susup dalam makna
dari kedalaman matamu derita pun lesup. di tengah
kesunyian menghawahidup
abadabad yang bisu meninggalkan kalender. menjauh dari angkaangka
sejumlah luka dipaketkan hujan tiap desember

Sampah

Telah memasuki lima hari. Kantongan plastik berisi sisa-sisa makanan itu ikut bertambah. Menumpuk di depan pagar. Satu dari kantongan sampah itu telah bolong tersebab tikus got yang mengorek-ngorek. Tukang sampah belum juga mengambil lima kantong hitam itu. Alhasil, bau busuknya yang menyengat membuat ibu-ibu kompleks tak lagi berkumpul riang. Yang ada di mulut mereka ialah keluhan mengapa tukang sampah tak kunjung datang.

Semangat Perempuan untuk Bantaeng

BANTAENG BAGAIKAN anak gadis yang sudah mulai pintar bersolek, kecantikannya mulai terkenal kemana – mana, bukan hanya di negeri ini saja, tetapi sampai ke luar negeri. Ini adalah prestasi yang membanggakan dan saya sangat mengapresiasi berbagai kemajuan yang telah terukir dengan indahnya di kota kelahiran saya ini.

Bantaeng merupakan tanah di mana para leluhur saya dilahirkan dan kemudian membuat denyut peradaban hingga saat ini. Namun saya khawatir jika kecantikan ini akan memudar seiring waktu. Kita butuh memperkuat pondasi dengan mengenal dan menanamkan sejak dini akan semua kearifan lokal yang tanah kita ini miliki sejak dahulu. 

Salah satunya adalah dengan mengenal sejarah. Bangunan yang tinggi menjulang tidak akan bertahan lama dan selamanya jika nilai – nilai yang merupakan tiang penyanggahnya lemah. Yang bisa mengokohkan tiang itu adalah nilai – nilai luhur dari para leluhur kita terdahulu. Saya akan mempersempit pembahasan kita pada sosok perempuan Bantaeng, karena kebetulan saya seorang perempuan yang selalu bangga dan bersyukur ditakdirkan oleh Tuhan sebagai salah seorang perempuan Bantaeng. 

Perempuan adalah penyokong bangunan yang memiliki posisi paling krusial dalam pembangunan. Contoh yang paling dekat adalah dalam keluarga, posisi dan peran perempuan adalah sebagai tiang keluarga. Kaum perempuanlah yang akan melahirkan, membesarkan dan mendidik generasi penerus. Bahkan kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas kaum perempuan, sehingga mau tidak mau, setuju atau tidak setuju kaum perempuan harus meningkatkan kualitas pribadinya masing – masing.

Tidak mungkin akan terbentuk keluarga yang berkualitas tanpa meningkatkan kualitas perempuan. Kualitas pendidikan perempuan juga merupakan aspek yang sangat dianggap penting bagi pembangunan bangsa. Kaum perempuan harus berusaha meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin, dengan pendidikan perempuan akan tahu banyak tentang kesehatan dan kehidupan sosial yang bisa menunjang kualitas pribadinya. Kemajuan peradaban sangat didukung oleh kualitas perempuan dalam sebuah daerah.

Mari kita menengok karakteristik perempuan Bantaeng menurut ajaran para pendahulu. Dalam khasanah budaya Bantaeng, seorang calon istri dianggap berkualitas tinggi jika ia memiliki tiga karakter yaitu: labbiri, mangkasa dan macca. Ketiganya merupakan karakteristik perempuan Bantaeng pada umumnya yang sudah merupakan ajaran yang harus diwariskan.Dalam konteks hubungan suami istri, ajaran ini mengajarkan bahwa seorang istri harus mampu membuat suaminya betah dirumah sekaligus membuat suaminya bangga karena memilikinya.

Labbiriartinya anggun, elok budi pekertinya, sehingga indah dipandang mata. Dalam karakter ini diharapkan perempuan Bantaeng mampu memperlihatkan kearifan budi pekertinya, dalam bersikap, berkata dan bergaul dengan orang lain. Keindahan lahir dan bathin akan tampak pada perempuan yang memiliki karakter labbiri. Kedekatannya pada Tuhan akan mempengaruhi seorang perempuan bisa memiliki karakter labbiri’. 

Hal ini merupakan kewajiban pokok yang harus dimiliki sebagai bentuk perwujudan bakti kepada keluarga besar, dengan demikian kapan dimana pun perempuan itu berada, dan dengan siapa dia bertemu, dia akan tetap menjaga nama baik keluarganya.

Mangkasa
artinya bersih dan terawat. Di sini perempuan Bantaeng diharuskan agar bisa merawat diri, merias diri ataupun berbusana yang sebaik – baiknya agar senantiasa tampak cantik, menarik dan mempesona.Karakter ini menitik beratkan pada penampilan fisik seorang perempuan yang juga merupakan kewajiban pokok yang harus dijaga sebagai bentuk perwujudan bakti dalam melayani suami. Dengan demikian, jika perempuan selalu tampak menarik, ia akan membuat suami betah tinggal dirumah.

Sedangkan Macca artinya pandai, cakap dan telaten. Di sini perempuan diharuskan untuk bisa pandai dan cakap dalam segala hal. Dalam sebuah keluarga istri adalah orang yang selalu dituntut untuk bisa mengurusi semua hal di dalam rumah, tentu saja dengan pengetahuannya tentang berbagai hal dan kecakapannya menyelesaikan segelumit pekerjaan rumah bisa membuat perempuan itu telaten. 

Mulai dari mengurusi dapur yang

Mencari Perempuan Bugis-Makassar

PADA SEBUAH sempat, saya memasang foto kamar saya yang berantakan karena sedang dicat di BlackBerry Messenger (BBM). Saya memberi keterangan (status) pada foto tersebut, “kamar ini sepertinya butuh sentuhan perempuan.” Saya juga menambahkan dua emoticon tertawa.

Seorang teman BBM saya mengomentarinya, “Halalkan cepat perempuanmu.” Saya hanya mengirimkan emotion senyum kepadanya. Ia membalasnya, “kenapa senyum?” Saya memutuskan mendiamkannya beberapa saat. Saya kembali sibuk mengecat kamar saya. Rasa capek setelah beraktivitas seharian membuat saya ingin cepat mengusaikannya lalu tidur.

Saat membenahi kamar, saya terusik dengan saran teman saya itu. Ia tinggal di luar Sulawesi Selatan (Sulsel) tepatnya di Denpasar, Bali. (Jangan tanyakan kenapa saya bisa dapat pin BBMnya, sebab saya juga tidak tahu). Aktivitas mengecat kamar saya hentikan. Saya kemudian mencuci tangan. Membiarkan aroma cat memenuhi kamar saya, membiarkan peralatan yang saya gunakan berserakan. Saya membaringkan tubuh kurus saya. Rasa capek menyergapnya.

“Sedang mencari perempuan yang akan dihalalkan,” balas saya kemudian sambil berbaring.
“Kan banyak tuh perempuan di kampung kamu, masa’ tidak ada yang mau?” balasnya lagi.
“Mencari perempuan Bugis-Makassar tidak hanya mencari perempuan yang akan menjadi pendamping hidup, tapi juga harus mencari sejumlah uang untuk menghalalkannya berupa uang panai, ” balas saya.
“Saya tak mengerti,” balasnya.

“Tidak mudah menghalalkan perempuan Bugis-Makassar,” balas saya lagi. Lalu percakapan (chat) kami berlanjut, diskusi ringan jarak jauh. Teman saya itu menawarkan diri menjadi perempuan Bugis-Makassar. Dia ingin seberuntung perempuan Bugis-Makassar yang dihormati oleh lelaki dalam bentuk uang panai’ yang jumlahnya bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah. Dan saya ingin menjadi lelaki Denpasar, yang “mungkin” jika ingin menghalalkan perempuannya tidak serumit dalam masyarakat saya.

Saya mencoba pahami perasaan teman saya itu, sebagai perempuan tentu dia ingin memiliki lelaki yang rela membuktikan cintanya dalam bentuk yang lebih besar. Ingin diperlakukan istimewa dan dihargai. Uangpanai’ bukanlah sebuah upaya untuk membeli perempuan dari keluarganya. Bukan pula sekadar untuk membiayai pesta pihak perempuan. Tapi uang panai adalah salah satu bukti mengistimewakan dan menghargai perempuan.

Uang panai adalah upaya pembuktian cinta yang besar. Tidak sedikit lelaki yang rela mengorbankan apa saja demi menghalalkan perempuan yang dicintainya untuk diikat dalam ijab Kabul. Jika cinta sejati adalah pembuktian, adalah pernikahan. Maka lelaki yang menikahi perempuan Bugis-Makassar dengan alur adat yang seharusnya adalah pejuang cinta sejati sesungguhnya.

Uang panai menjadi fenomena tersendiri. Banyak dibincangkan, bahkan menjadi lelucon. Seorang teman pernah bergurau bahwa investasi paling baik dan menjanjikan sekarang ini adalah tanah, rumah dan anak perempuan. Gurauan tersebut saya hanya tanggapi dengan tertawa, tapi memiliki anak perempuan sebagai sebuah investasi orang tua dalam masyarakat Bugis-Makassar juga ada benarnya. Meski menjaga satu anak perempuan, kata sebagian orang lebih sulit daripada menjaga puluhan kerbau.

Chat kami terus berlanjut malam itu. Berkali-kali teman BBM saya tersebut meng

January 17, 2016

Rubrik Seni Koran Kompas Edisi 17/1/2016

Pada rubrik Seni Koran Kompas edisi 17 Januari 2016, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Raudal Tanjung Banua dengan judul Hikayat, 1; Hikayat, 2; Hikayat, 3 dan Hikayat, 4. Puisi Ook Nugroho berjudul Peperangan Sunyi, Sajak Penghabisan, dan Menulis Sajak itu Sederhana. Dan Cerpen Sopianto dengan judul Elegi Tanah Melayu. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Puisi Rubrik Seni Koran Kompas, 17/1/2016 |Foto by MgP|
Muh. Galang Pratama
Cerpen Rubrik Seni Koran Kompas, 17/1/2016 |Foto by MgP|

Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar Edisi 17/1/2016

Pada Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi Minggu 17 Januari 2016, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Sabila Anjangsana berjudul Seumpama Kata dan Obituari Puisi. Cerpen Muhammad Hidayat dengan judul Sampah.
Sedangkan Apresiasi A. Atte Shernylia Maladevi berjudul Semangat Perempuan untuk Bantaeng. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 17/1/2016   |Photo by MgP|