January 16, 2016

Perempuan yang Tidak Pernah Berbohong

Kau seperti merpati yang karena kehilangan
kompas alami, menolak terbangkan surat
pada seorang kekasih atau mengantarkan
kabar bahwa perang telah selesai.
Sebab seseorang mungkin akan jatuh cinta
pada orang lain, atau laga senjata akan
kembali membuat banyak orang mati.

Perempuan yang Mengingat Seluruh Tanggal

Tanggal-tanggal pantang luruh dari purnama
dan matamu mereka kekal di sana, mereka
berlarian di kepalamu, membentuk hal-hal
yang membangun masa lalu
untuk masa depanmu,

Kau mengingat tanggal saat kita pertama
saling tatap, saat hujan jatuh paling mula
di matamu, saat lilin dinyalakan dalam perayaan
hidupmu, saat bahagia dan duka menjadi satu,
dan saat orang-orang datang dan pergi
sambil membawa banyak tawaran seperti
mendung yang menjanjikan hujan
-tapi sebetulnya tidak pernah turun.
Semua tanggal dengan mudahnya
mukim di ingatanmu.

Tatapan Siklus

Kalian lahir,
Menatap dunia dalam tangis
Enggan berbicara pada alam
Sejuta harapan bertumpu
Tubuh mungil tanpa dosa mengeliat menerima

Kalian hidup,
Belajar berbuat untuk kilau cahaya
Baik dan buruk tak terhalang
Laju waktu berkejaran
Menikmati sajian bermakna

Tari Paduppa

Engkau terlihat cantik hari ini
Wajah bercahaya indah dipandang
Ditambah senyum anggun merusak logika
Lalu elok tubuhmu terbalut baju bodo

Mata enggan berkedip melihat putri raja
Kau lenggokkan tubuhmu ikuti irama gendang
Sepertinya aku terlarut dalam fantasi tarianmu
Semua gerak tubuhmu adalah isyarat

Tana Ugi'

Tana ugi' ancajingekku
Werekkada madecceng
Gau'-gau' sitinaja malebbi
Sipakatau', Sipakalebbi', Sipakainge'

Aku lahir, besar dan belajar
Bersama adat dan budaya
Cerminan pribadi Tau Ugi'
Rumpun yang sampai mati kucinta

SAHAM EMAS

Ada nafsu kuasa dan serakah bersekutu
diam-diam mereka bertemu
sepakat mereka akan raih saham emas
Lalu ada nama yang dicatut
padahal merek tidak patut
Emas masih berjaya
masih batu mulia
saham pun menggiurkan
hingga melumat setia

AKU NELAYAN

Dengan langkah pasti ke laut kusiapkan perahu
dan pukat doa-doa mengantarku juga wajah yang
menyimpan harapan akan kujaring rezeki sekuat
tenaga perahuku melaju tiada kata menyerah
pun aku tak kenal lelah
Boleh badai datang dan amuk gelombang
nelayan takkan pulang bila perahu kosong
bila harapan hilang

HIMNE

Aku menatap cahaya
Kulihat matamu
Kudengar lembut suara
Itulah hatimu
Ada gemuruh guruh
Itulah tekadmu
Di sana berkobar nyala api
Begita pula semangatmu

January 14, 2016

Kita Begini Saja

Ada perbedaan yang tak akan pernah bisa bersama
Sebab menyatu baginya adalah sebuah petaka
Sebab berpadu baginya adalah letupan-letupan airmata
Perbedaan ini bersinar di antara kita
Yang tahu benar arti cahaya
Hanya jika dipandangi dari jauh.
Kita begini saja

Pindah Rumah

Tiada lagi bunga-bunga yang biasa menghampar di dada puisi
Sesudah tirai biru di jendela ditutup jemari
Yang sering sementara kilau pagi matahari
Adalah kata sambutan yang kita ketahui

January 10, 2016

Budaya Koran Fajar Makassar edisi 10/1/2016


*Pada Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar edisi Minggu 10 Januari 2015, karya sastra yang tersiar adalah Puisi Batara Al-Isra berjudul Perempuan yang Mengingat Seluruh Tanggal dan Perempuan yang Tidak Pernah Bohong. Cerpen Edi Sutarto dengan judul Umbaumba dan Saraba.
Sedangkan Apresiasi Andi Reski JN berjudul La Kuttu Buleng; Petuah Awal Tahun 2016. (*MgP)


Muh. Galang Pratama
Rubrik Budaya Koran Fajar Makassar, 10/1/2016 |Foto by MgP|