November 09, 2016

Gerai Koran

Saya yakin jarang sekali anak muda mau bangun pagi pagi lalu datang ke gerai koran dan tinggal di situ selama berjam jam.

SAYA datang ke tempat ini hampir setiap Minggu pagi. Dalam sebulan ada empat minggu. Kadang saya absen satu kali. Tapi tak pernah absen membaca/membeli koran Minggu, kecuali saat saya berada di luar kota ini. Yang mana di tempat itu saya tak mendapati tempat membaca sebaik tempat di sini. Memang sederhana dan kecil gerai ini, tapi dari sinilah inspirasi menulis saya mencuat. Setidaknya saya tidak hanya membaca status di media sosial yang ribut ini tapi juga bisa membaca fakta di luar dunia maya, membaca kabar yang sudah tentu tak semua mampu dijangkau jika saya hanya bergelut dengan media maya saja.

Pagi ini saya mulai membaca Koran Tribun Timur Makassar, di situ ada banyak berita anak, berita iklan dan lowongan kerja. Ada berita PSM Makassar yang sempat kalah dan sebentar kembali bertarung. Ada juga berita olimpiade yang menjadi headline-nya. Serta ada berita teroris dan kasus-kasus yang lain. 

Saya melangkah ke Koran Fajar Makassar. Headline-nya ada berita tentang cemilan yang unik. Namanya snack bikini, ada kata "remas aku" dan label halal yang diragukan kebenarannya. 

Selain itu ada makanan lain yang kontroversial seperti kafe jamban, wadah makanannya berbentuk kloset jongkok. Serta ada snack yang di dalamnya ada bungkusan mirip kondom yang diisi makanan. Dan ya sudah tentu anak anak sekarang diajari untuk mengetahui sekaligus mencicipi makanan ini. 

Saya membalik halaman selanjutnya, ada berita perkelahian anggota polisi dan satpol PP. Ini gegara acara nikah massal yang diselenggarakan Pemkot Makassar di anjungan pantai losari, (6/8/2016 lalu). 

Memang, saya melihat, di anjungan sana, yang menjadi penjaga parkir (selain oknum tukang parkir) adalah para satpol PP. Tapi kan kemarin ada acara besar, jadi turutah polisi dari Sat Bhayangkara mengamankan pernikahan 500 pasangan yang sudah tua tua itu di pantai losari yang ber tujuan demi mandapatkan buku nikah langsung dari kementerian agama prov sulsel dan setelah itu dicatatlah nama pasangan itu di dinas catatan sipil kota Makassar. Sehingga resmilah semua.

Saya tak lama di pembahasan itu. Sebenarnya saya lebih penasaran dengan tulisan sastra di setiap koran Minggu. Saya beralih ke rubrik budaya. Selain mendalami tafsir kelong, saya melihat sekaligus membaca dan meresapi tulisan sastra lainnya seperti Puisi puisi Hasymi Arif, Cerpen Irhyil R Makkatutu dan Apresiasi dari Wahyu Gandi G. Saya merasakan ada jiwa penulis di atas pada setiap karyanya. (Di postingan selanjutnya saya akan membeberkan isi ketiga tulisan tersebut).

Saya kemudian mengambil Koran Kompas dan koran ini yang kemudian saya bawa pulang ke Rakit, meski saya harus merogoh kocek tujuh ribu rupiah. Itu pun uang yang kupakai adalah uang pinjaman. Hh. Lima ribu harga korannya, dua ribu biaya membacanya. Jika hanya membaca seluruh koran di gerai ini (tanpa membawa pulang korannya) biasanya saya cukup membayar dua ribu perak. Wah murah kan? Padahal saya duduk di sini dari pukul 7 lewat sampai pukul 10 lewat. Hmm. Tapi setidaknya saya senang.

Di koran Kompas,
yang paling menarik saya selalu lihat dan kemudian saya baca adalah cerpen, Udar Rasa, Parodi dan Kredensial. Semua itu adalah kolom yang disediakan kepada penulis yang menyajikan isi kepalanya kepada pembaca dengan amat telaten dan penuh inspirasi selain di dalamnya ada juga ironi dan tawa.

Saya suka sekali cerpen cerpen yang dimuat di kompas, sebab isinya bukan hanya karena ditulis oleh penulis hebat tapi juga bahasan di dalamnya menarik untuk direnungkan. Pagi tadi saya membaca cerpen berjudul Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri karya penulis generasi Eka Kurniawan, yang juga seorang sutradara pertunjukan teater. Salah tiga bukunya yaitu Selingkuh Itu Indah, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia dan Cerita Buat Para Kekasih yang diterbitkan Gramedia (2014). 

Cerpen yang ditulis Agus Noor ini (mungkin) dibuat khusus untuk Putu Wijaya. Karena di akhir cerpennya ada kalimat yang membenarkan itu. Saya tak tahu meski saya penasaran ingin tahu mengapa cerpen yang diawali dengan kalimat "Koruptor atau bukan, ada baiknya kalian menyimak cerita anjing Pak Kor ini," dibuat untuk Putu Wijaya. 

Beberapa cerpen yang dibuat Agus memang kadangkala terinspirasi dari sosok (atau melalui tulisan) penulis yang menyajikan kisah menarik di tiap tulisannya. Selanjutny saya alihkan mata saya ke bawah kolom cerpen. Udar Rasa.

'Udar Rasa' selalu diisi oleh coretan tangan Jean Couteau. Judul yang kali ini ia ambil adalah Hukuman Mati. Tepat sekali judul ini diambilnya. Karena Freddy Budiman akhirnya mati di tangan penembak jitu. Namun 'Freddy (mati) tinggalkan sejuta tanya', begitu judul berita di halaman lain di koran yang terbit pertama kali di tahun yang sama dengan tahun gerakan PKI memberontak di negeri ini.

Apa tanda tanya yang ditinggalkan Freddy? Diantaranya adalah: soal pengakuan Freddy yang disampaikan kepada aktivis hak asasi manusia (koordinator KontraS) Haris Azhar, tentang keterlibatan aparat kepolisian, BNN, dan TNI dalam kasus narkotika (hal 2).

Selain 'udar rasa', 'parodi'-nya Samuel Mulia berjudul 17 Tahun ke Atas juga menarik dibaca. Ia begitu resah dengan orangtua yang membawa anaknya yang masih di bawah umur (termasuk bayi) memasuki gedung bioskop menonton aksi pertunjukan perkelahian dan kekerasan terhadap perempuan. 

Bahkan, ada orangtua (seperti yang ditulis Samuel) yang membawa anak bayinya nonton di bioskop hingga larut malam. Samuel gelisah dengan orangtua yang tidak mampu mengahadirkan cinta di dalam rumah. Sehingga saya rasa, bukan cuma pasangan yang belum nikah, orangtua muda yang baru merasakan nikmat-pahitnya sebuah pernikahan harus belajar menghadirkan cinta di dalam rumah terlebih dahulu. Sebelum generasi kita ini tidak jadi semakin rusak di masa mendatang gegara bergelut dengan lingkungan di luar rumah yang telah dipenuhi badai modernitas yang sudah tak terbendung lagi.

Gowa, 7 Agustus 2016

M Galang Pratama
Harian Kompas, 7/8/2016
Sumber: Facebook
Post a Comment