March 06, 2016

Sastra Cyber: Generasi Teks dan Pencinta

“Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan."
(Erich Fromm)

PARA PENGGIAT sastra cyber percaya bahwa karya sastra yang mereka kerjakan dan dipublikasikan melalui medium internet adalah bukan semata teknologi informatika. Lebih dari itu, yang mereka kerjakan adalah sebuah keniscayaan hasil peradaban dan kebudayaan. 

Sastra cyber bukan sebuah barang yang pantas dipolemikkan jika para tukang polemik itu mau memahami sejarah. Pastilah mereka belum tahu bagaimana ketika seorang manusia di zaman batu yang belum mengenal kertas, tiba-tiba menemukan ruang ekspresi di dinding gua. Pengalaman batinnya yang sederhana dituangkan melalui lukisan guratan batu dan tulang di media dinding gua. Kertas pun ditemukan, ekspresi manusia berpindah medium ke media cetak. Radio dan televisi pun datang, muncullah berbagai wadah ekspresi yang baru, juga yang aneh-aneh. Internet pun datang, muncullah ragam wadah baru yang lebih kompleks tapi justru juga diikuti tukang polemik.

Sastra cyber tetap saja bagian dari budaya teks. Lebih dalam lagi, pesastra cyber lebih layak masuk kategori generasi teks. Generasi teks adalah angkatan yang menjadikan tulis-menulis sebagai bagian penting, dalam hal-hal sekecil apapun. Teks mereka tidak hanya di internet. Mereka ada di mana-mana, dalam SMS, dalam BBM, dan lain-lainnya. 

Sastra cyber disepakati sebagai sebuah revolusi. Sebagaimana internet menjadi revolusi media kedua setelah penemuan mesin cetak Guttenberg dan ketiga setelah kehadiran televisi. Sebelum munculnya sastra cyber, dunia sastra Indonesia sendiri telah memiliki beberapa kekhasan yang terkait dengan keberadaan teknologi media seperti sastra majalah, sastra koran, dan sebagainya. Ketika biaya publikasi semakin mahal, keberadaan sastra cetak pun dirasa telah membangun hegemoninya sendiri, internet pun datang. Komunitas-komunitas sastra maya bermunculan. Dengan memanfaatkan teknologi dan kreatifitas internet menawarkan iklim kebebasan, tanpa sensor. Semua orang boleh memajang karyanya, dan semua boleh mengapresiasinya.

Sangat ironis, tantangan di Indonesia justru muncul dari dunia sastra sendiri. Sekali waktu sastra cyber, dengan sifatnya yang bebas itu pernah dituding oleh beberapa pihak sebagai sekadar ajang main-main sehingga karya-karyanya pastilah tak bermutu. Meski demikian, seiring berjalannya waktu, saat ini eksistensi karya sastrawan cyberpun sudah mulai makin diakui oleh masyarakat, walau untuk apresiasi mungkin masih dipandang sebelah mata oleh sebagian “kelompok sastra mapan”. 

Penggunaan istilah sastra cyber sendiri secara gamblang menyatakan
jenis medium yang dipakai: medium cyber, persis sama halnya dengan istilah sastra koran, sastra majalah, sastra buku, sastra stensilan, sastra radio, sastra dinding, dan sebagainya.

Para penggiat sastra cyber di hari-hari ini adalah “generasi teks” dan “pecinta.” Seseorang yang memuat karyanya di internet jelas melakukan hal itu bukan untuk mengharapkan honorarium sebagaimana ketika seorang sastrawan "profesional" mengirimkan karyanya untuk dimuat di koran atau majalah. Para penggiat sastra cyber patut merasa kasihan terhadap sastrawan “profesional” yang menyerahkan nasibnya kepada redaktur media cetak. Seolah-olah hidup-matinya tergantung kepadanya dan karenanya harus "melayani" selera redaktur agar karyanya bisa dimuat, lalu tujuan pokok kapitalisme pun berkesinambungan. Di manakah letaknya sastra di saat pesastranya belum layak menjadi pencinta?

Pertanyaan besar yang sering melekat pada penggunaan istilah sastra cyber adalah masalah estetika yang menurut pengamat sastra tidak seperti halnya sastra koran dan sastra majalah yang "memiliki nuansa estetika yang esensial dan bisa diukur". Tidak jelas juga nuansa estetika yang bagaimana yang dimaksud itu. Apakah sastra koran dan majalah memang mengusung gagasan sebuah nuansa estetika yang esensial dan bisa diukur, yang orisinal? 

Di hari-hari ini semua orang dapat menulis cerpen, puisi, atau berita pada menu status atau note di berbagai sosial media. Semua orang dapat bergabung pada menu grup di berbagai jejaring sosial itu, yang khusus membicarakan dunia tulis-menulis. Jika tulisan yang diposting menarik, maka akan mendapatkan apresiasi dari pembaca. Dapat berupa “like”, masukan ataupun pujian. Hal itu tentu sangat menarik dan mengakibatkan kecanduan tersendiri.

Efek positif dari bersastra melalui internet adalah dapat menghemat tenaga, waktu dan biaya. Para penggiat sastra terutama perempuan cenderung lebih menyukai keunggulan itu. Para ibu rumah tangga dan gadis-gadis muda bisa berdiskusi sambil makan, tiduran, membaca buku, mengerjakan pekerjaan rumah dan lain-lain. Efek negatifnya juga banyak. Salah satunya yang paling mengerikan: sebagian besar pengguna internet kehilangan interaksi sosial di dunia nyata, suatu hal yang justru meminggirkan tujuan mulia dari sastra. 

Facebook dan blog merupakan dua contoh media di era teknologi informasi ini. Sebuah proses kreatif yang dilakukan melalui facebook, namun sastra yang dihasilkan bukan berarti bernama sastra facebook. Analoginya jika dulu banyak yang menulis di buku besar, bukan berarti karya yang dihasilkan bernama sastra buku besar. Jika kegiatan yang dilakukan adalah bersastra, maka hasilnya pun merupakan sastra. Tak ada embel-embel media yang digunakannya, misalkan sastra facebook, sastra instan, dan lain-lain. Adapun jika teknologi informasi itu mempengaruhi karya yang dihasilkan bisa jadi memang benar adanya.

Sastra cyber telah membawa lebih banyak lagi manusia untuk gemar menulis. Menulis apa saja yang dapat dimengerti orang lain. Hal itu membawa implikasi bahwa setiap orang mempunyai peluang yang sama untuk bisa menulis. Orang-orang pun akan tahu betapa inklusifnya sastra cyber itu. Sangat berbeda dengan komunitas-komunitas sastra di "darat" atau "eksklusivitas" prestise sebuah halaman budaya di suatu koran misalnya. 

Secara individual para pesastra dan mereka yang menganggap dirinya sastrawan “profesional” harusnya terus bergulat menggali potensi dirinya sendiri dengan media apapun yang dikuasainya. Isolasi ruang gerak sastrawan berdasarkan media yang digunakan hanya akan menghasilkan kontraproduktif. Semestinya sastrawan mewajibkan diri bisa bergerak di mana saja, baik cetak, elektronik maupun online. Ketika itu dilakukan, barulah seorang pesastra atau sastrawan “profesional” bisa naik kelas menjadi “pencinta”.(*) 

                                                                                                         Tanete, 29 Nopember 2014


Karya: Israwaty Samad


Rujukan:
  1. Disalin dari file Israwaty Samad
  2. Pernah tersiar di Koran Fajar Makassar, 21 Februari 2016
Post a Comment